MovieReview Film

Review Contagion (2011): Film Pandemi Yang Relevan dan Tepat Eksekusinya

Review Contagion ini mengandung SPOILER!

Oke, oke. Gue paham sekali kalau mungkin banyak dari kalian yang sudah bahkan berkali-kali menyaksikan Contagion. Gue sendiri saja sudah lebih dari tiga kali nonton filmnya.

Tapi ya gak heran kalau kita sampai sekarang masih suka nonton filmnya lagi, lagi, dan lagi. Karena seperti kita tahu selain film arahan Steven Soderbergh (Ocean’s Eleven, The Girlfriend Experience) ini memang keren dan gak bosenin, juga tema yang diangkat sangat relevan dengan situasi pandemi COVID-19 yang kita alami sekarang ini.

Plus, mengingat COVID-19 masih belum kelar-kelar hingga review ini gue buat, dan juga karena Dafunda belum ada review Contagion, well alhasil gak heran jika review Contagion ini dibuat dan diunggah.

Nah setelah mengetahui seluruh penjelasannya tersebut, mari kita mulai saja review Contagion ini oke?

Berawal Dari Sedikit Lalu Menyebar Luas

Plot cerita Contagion pada awalnya hanya berfokus terhadap satu karakter yaitu Beth Emhoff (Gwyneth Paltrow). Beth di awal film dikisahkan sedang menunggu pesawat pulangnya dari Hong Kong.

Namun sebelum pulang ke rumahnya yang bertempat di pinggiran kota Minneapolis, Minnesota, Beth mampir sebentar ke Chicago, Illinois. Ia mampir untuk mengunjungi mantan kekasihnya. Padahal ia sudah menikah dengan suami barunya, Mitch Emhoff (Matt Damon).

Ya tentunya asumsi kita adalah ia selingkuh. Nah setelah dari situ, ia barulah pulang ke rumah. Nah sesampainya di rumah inilah gejala sakit seperti flu berat yang ia sudah rasakan semenjak di bandara Hong Kong kian parah.

Pada akhirnya iapun kejang-kejang lalu meninggal dunia. Nah di Hong Kong sendiri, beberapa warganya pun juga sudah mulai mengalami penyakit flu ganas yang serupa dan meninggal seperti Beth.

Nah dari Beth dan warga-warga Hong Kong inilah, akhirnya secara perlahan namun pasti, virus flu mematikan ini menyerang beberapa negara dunia lainnya. Alhasil dari awalnya yang dikira sebagai epidemi saja, kini penyakit flu parah ini menjadi pandemi global.

CDC dan Jurnalis Pontang-Panting Sendiri

Melihat bencana besar ini, alhasil membuat Centers for Disease Control Prevention (CDC) langsung pontang-panting gak karuan sendiri.

Salah satu dokter dari agensi kesehatan top A.S ini, Dr. Ellis Cheever (Laurence Fishburne) adalah salah satu yang juga puyeng dengan seluruh peristiwa pandeminya ini. Untungnya bukan CDC saja satu-satunya badan atau agensi kesehatan yang kelimpungan.

Dr. Erin Mears (Kate Winslet) dari Epidemic Intelligence Service (EIS) pun juga turut turun tangan. Namun ironisnya ia juga tertular virus bernama MEV-1 ini dan seperti Beth dan anak tiri Mitch, Clark (Griffin Kane), sayangnya ia juga meninggal dunia.

Namun bukan hanya pakar-pakar kesehatannya ini saja yang sibuk sendiri. Seorang jurnalis/blogger, Alan Krumwiede (Jude Law) juga sibuk sendiri untuk mengungkapkan pandemi ini.

Akan tetapi sayangnya ia adalah termasuk blogger yang menganggap kalau pandemi ini adalah buatan manusia. Dan ketika vaksin sudah diedarkan, ia menganggap kalau hal ini untuk membuat untung pemerintah/negara saja (hmmm, familiar banget bukan dengan apa yang kita lihat dan dengar sekarang ini).

Oh ya jangan lupakan juga film ini menampilkan fenomenan panic buying bahkan sudah termasuk menjarah. Belum lagi rusuh karena ketersediaan vaksinnya yang sangat terbatas.

Relevan Tapi Tetap Beda

Nah dengan rangkuman plot tersebut. Maka sekali lagi gak salah bukan jika Contagion dianggap film bertemakan pandemi yang sangat relevan dengan situasi sekarang ini? Karena ya situasi yang film ini tampilkan sangat lumayan mirip dengan situasi saat ini.

Walau demikian, tetap saja karena film ini sendiri juga rilis hampir 9 tahun sebelum pandemi COVID-19, ada perbedaan yang lumayan terlihat antara MEV-1 dan COVID-19. Perbedaan yang sangat mencolok adalah durasi antara tertular dan kematiannya

Spesifiknya jika waktu antara penularan dan kematian pasien COVID-19 rata-rata bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, maka MEV-1, hanya beberapa hari saja.

Kejang-Kejang COVID-19

Nah sedangkan untuk gejala kejang-kejang yang menjadi salah satu gejala khas MEV-1 dengan gejala COVID-19, sebenarnya masih ada kesamaannya. Memang selama kita melihat gejala COVID berbagai variannya sejauh ini, sangat jarang atau bahkan gak pernah mendengar kalau kejang-kejang adalah salah satu gejalanya.

Namun melansir data dari seizure-journal, faktanya kejang-kejang juga dialami oleh beberapa pasien COVID-19. Spesifiknya dari 5872 penderita COVID-19 yang mereka teliti, 45 orang atau 0.8% diantaranya terdeteksi mengalami gejala kejang-kejang.

Nah melansir dari penemuan tersebut, maka ya bisa kita katakan aspek gejala kejang-kejang dari MEV-1 dalam film ini ada sedikit kemiripannya dengan COVID-19 saat ini. Sehingga sekali lagi, membuat Contagion menjadi film yang sangat mirip dengan situasi pandemi yang kita hadapi sekarang ini.

Film Pandemi Yang Tepat Eksekusinya

Selain kerelevansian yang Soderbergh cs sukses tampilkan. Aspek lain yang membuat Contagion keren adalah eksekusi filmnya yang tepat dan sesuai harapan banget.

Maksudnya, film ini ya sekitar 75% berfokus habis-habisan terhadap aspek plot pandeminya. Sedangkan sisanya baru ada bumbu drama dari karakter-karakternya khususnya dari keluarga Emhoff.

Jadi jangan kira film ini seperti rata-rata rilisan film pandemi COVID-19 dalam 2 tahun terakhir seperti Songbird (2020) atau bahkan Locked Down (2021). Kedua film ini seperti kita tahu, justru lebih berfokus pada aspek dramatis percintaan atau drama apapun yang dialami karakternya selama pandemi.

Aspek tersebut sih sebenarnya sah-sah saja. Tapi toh pada akhirnya konsep yang diusung adalah pandeminya bukan? Nah Contagion sekali lagi, untungnya sangat mengedepankan konsep tersebut dari awal hingga akhir filmnya.

Scoring dan Penampilan Super Keren Dari Aktor-Aktornya

Nah aspek positif yang telah tersebutkan di atas, kian diperkuat dengan scoring dan penampilan aktor-aktornya yang gokil.

Scoring gubahan Cliff Martinez (Spring Breakers, Game Night) yang mengusung sound ala cyberpunk, terasa sangat beda, unik, tapi anehnya terdengar pas dengan filmnya ini.

Saking pasnya, gak heran membuat beberapa adegan yang hanya diiringi musiknya saja ini terlihat dan terasa keren dan inovatif banget. Selain itu juga bagi gue pribadi, sound scoring-nya lumayan memberikan rasa teror dari bencana pandemi filmnya.

Kekuatan scoring tersebut kian kuat dengan performa yang juga sangat gokil. Bagi gue gak ada yang lebih bersinar. Dari Damon, Law, Winslet, dan bahkan Paltrow yang hanya tampil sebentar pun memberikan performa terbaik mereka tanpa berlebihan sama sekali.

Namun kalau memang mau kita pilih lagi, maka yang bagi gue bersinar dalam film ini adalah Law, Damon, Fishburne dan Marion Cotillard (The Dark Knight Rises). Cotillard dalam film ini memerankan epidemiolog WHO, Dr. Leonora Orantes.

Film Yang Akan Selalu Segar dan Relevan Hingga Kapanpun

Melihat seluruh penilaian-penilaian positif tersebut, kitapun pastinya menjadi bertanya apakah ada aspek negatif dari film ini? Sayangnya sih kalau bagi gue ada. Dan kekurangannya terdapat pada pengaturan pacing filmnya.

Spesifiknya babak pertama hingga masuk babak kedua film ini alurnya masih lumayan fast-pace dan membuat kita terus melek. Namun memasuki babak kedua, pacing mulai agak naik-turun. Malah bagi gue lebih banyak turunnya. Yang mana akhirnya membuat sering sedikit terkantuk.

Namun untunglah pada babak ketiga, pacing kembali enak lagi Tapi ya kalau kita pikir lagi, memang pacing dengan pola ini sesuai banget untuk menceritakan filmnya ini. Ya intinya kekurangan ini bersifat sangat subyektif. Mungkin bagi beberapa dari kalian, akan merasa pacing-nya oke-oke saja.

Akan tetapi terlepas kekurangan tersebut, bisa kita simpulkan dari review Contagion ini kalau film ini adalah film yang memiliki nilai kesegaran yang sangat tinggi. Bahkan katakanlah tahun 2024 COVID-19 berakhir (amin), Contagion masih akan terlihat dan terasa segar dan relevan banget.

Bisa Menjadi Bahan Studi Preventif Yang Sangat Efektif

Mengapa demikian? Karena tema dan isi film ini akan berpotensi untuk menjadi relevan lagi dan lagi, kalau saja ke depannya nanti ada pandemi flu baru atau yang sejenis seperti MEV-1 atau COVID-19.

Kalaupun katakanlah ke depannya tidak ada lagi pandemi, maka Contagion masih bisa dijadikan salah satu sumber pembelajaran atau penelitian tidak hanya bagi awam namun juga seluruh ilmuwan-ilmuwan.

Karena faktanya, film ini bisa banget mereka tonton ulang sebagai media peringatan terhadap potensi pandemi-pandemi sejenis selanjutnya. Sehingga dengan demikian, kita semua tidak akan mengalami peristiwa seperti pandemi COVID-19 ini.

Atau ya dengan kata lain, film ini adalah salah satu film yang WAJIB untuk dilestarikan. Nah itulah tadi bahasan review Contagion. Semoga review-nya ini bermanfaat ya guys! Oh ya, kalau mungkin kamu belum nonton juga film ini, ya tunggu apalagi? Langsung deh nonton oke.

What's your reaction?

Related Posts

Leave Comment
Continue in browser
To install tap Add to Home Screen
Add to Home Screen
See this post in...
Dafunda.com
Chrome
Add Dafunda.com to Home Screen
Close

For an optimized experience on mobile, add Dafunda.com shortcut to your mobile device's home screen

1) Press the share button on your browser's menu bar
2) Press 'Add to Home Screen'.