Rian Johnson kembali mengisahkan petualangan Benoit Blanc lewat film terbarunya yang berjudul Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery. Jika dua film sebelumnya tampil sebagai permainan whodunit modern yang penuh sindiran sosial dan dialog cerdas, maka film ketiga ini melangkah ke jalur yang lebih spiritual secara emosional. Berikut adalah review Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery dari Dafunda.
Judulnya saja seakan sudah memberi kita sinyal, bagaimana mungkin membangunkan orang yang sudah mati. Namun tenang, Knives Out tidak kehilangan identitasnya. Film ini tetap cerdas, penuh lapisan, dan memuaskan bagi pencinta misteri. Bedanya, kali ini hanya humor yang ditampilkan tidak terlalu banyak seperti 2 film sebelumnya.
Review Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery
Benoit Blanc yang Lebih Manusiawi

Daniel Craig kembali memerankan Benoit Blanc dengan pendekatan yang terasa lebih matang. Aksen khas dan kecerdasan teatrikalnya masih ada, tetapi kali ini ia tidak selalu menjadi pusat perhatian. Blanc di Wake Up Dead Man lebih sering mengamati, mendengar, dan berpikir. Seolah menyadari bahwa tidak semua kebenaran ingin ditemukan.
Perubahan ini membuat karakter Blanc terasa berkembang. Ia bukan lagi sekadar detektif jenius yang selalu selangkah di depan, melainkan sosok yang mulai mempertanyakan dampak dari pekerjaannya sendiri. Ada keraguan, ada kelelahan emosional, dan ada beban moral yang terasa nyata.
Pendekatan ini menjadi salah satu kekuatan terbesar film. Tanpa perlu monolog panjang atau drama berlebihan, penonton bisa merasakan bahwa Blanc sedang menghadapi kasus yang tidak hanya rumit secara logika, tetapi juga berat secara batin.
Misteri yang Terasa Pelan Namun Menegangkan

Dari sisi struktur cerita, Wake Up Dead Man memilih tempo yang lebih lambat namun pasti. Film ini tidak terburu-buru menyajikan twist atau kejutan. Sebaliknya, Rian Johnson membiarkan misteri yang terjadi ditampilkan detail kecil, percakapan sederhana, dan interaksi antar karakter yang tampak sepele, tapi penuh makna.
Bagi sebagian penonton, ritme ini mungkin terasa lebih lambat dibanding Glass Onion. Namun kesabaran tersebut terbayar. Setiap informasi yang diberikan punya tujuannya tersendiri, dan hampir tidak ada adegan yang terasa mubazir.
Ansambel Karakter yang Lebih Realistis

Seperti tradisi Knives Out, film ini dipenuhi karakter yang sama-sama mencurigakan. Namun kali ini, mereka ditulis dengan pendekatan yang lebih realistis. Tidak ada tokoh yang terasa seperti pelengkap atau cuma sekedar haidr saja.
Setiap karakter punya kepentingan, rahasia, dan konflik personal yang tidak selalu berhubungan langsung dengan kejahatan utama. Justru di situlah letak kekuatannya. Penonton dibuat sadar bahwa dalam dunia nyata, orang bisa menyembunyikan sesuatu tanpa harus menjadi pelaku kejahatan. Dialog antar karakter tetap tajam, penuh sindiran halus, dan sering kali menyimpan makna ganda.
Kritik Sosial Yang Tajam

Jika Glass Onion lantang menyindir budaya orang kaya dan ego publik, Wake Up Dead Man memilih jalur yang lebih tenang. Kritik sosialnya tidak disampaikan secara gamblang, melainkan lewat relasi kuasa, pembenaran diri, dan cara karakter memanipulasi narasi demi melindungi citra mereka.
Film ini banyak berbicara tentang rasa bersalah, kebenaran yang dipilih, dan harga yang harus dibayar ketika seseorang memutuskan untuk jujur. Tema-tema tersebut terasa relevan dan kontekstual, tanpa terasa menggurui.
Rian Johnson tampak lebih tertarik mengeksplorasi sisi manusiawi dari kebohongan. Bukan hanya bagaimana kebohongan diciptakan, tetapi mengapa orang merasa perlu melakukannya.
Visual dan Atmosfer yang Lebih Galap

Secara visual, Wake Up Dead Man tampil lebih gelap jika dibanding dengan film sebelumnya. Pencahayaan banyak bermain di bayangan, interior tertutup, dan palet warna yang dingin. Pilihan ini memperkuat nuansa cerita yang lebih serius dan kontemplatif.
Meski demikian, film ini tetap elegan secara sinematik. Komposisi gambar terasa rapi, kamera bekerja dengan tenang, dan setiap lokasi memiliki karakter yang kuat. Tidak ada visual yang terasa berlebihan, semuanya sesuai dan cocok dengan cerita yang ada.
Skor musik dalam film ini pun terasa tidak berlebihan. Alih-alih mendikte emosi penonton, skor film ini lebih sering hadir untuk menekankan kesunyian dan ketegangan.
Lebih Sedikit Humor
Bagi kalian penggemar Knives Out, film ini masih menampilkan beberapa humor khasnya, meskipun tidak banyak. Masih ada momen ironis dan dialog yang setidaknya bisa membuat penonton tertawa kecil. Humor disini juga hadir sebagai pelengkap saja, bukan sebagai penggerak utama.
Dengan tema yang lebih berat, humor yang berlebihan justru akan merusak atmosfer. Wake Up Dead Man tahu kapan harus bercanda, dan lebih penting lagi, tahu kapan harus diam.
Layak Ditonton atau Tidak?

Jawabannya: ya, dengan ekspektasi yang tepat.
Wake Up Dead Man mungkin bukan film Knives Out yang paling “seru” dalam arti konvensional, tetapi bisa jadi yang paling berani dan paling berkesan. Ini adalah film yang meminta penonton untuk lebih memperhatikan, lebih sabar, dan lebih reflektif.
Bagi pencinta misteri klasik yang menyukai karakter kuat dan cerita berlapis, film ini menawarkan pengalaman yang memuaskan. Bagi yang mengharapkan hiburan cepat penuh kejutan, film ini mungkin terasa lebih berat, namun tetap solid secara kualitas.
Kesimpulan
Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery membuktikan bahwa franchise ini tidak takut berkembang. Ia masih cerdas, masih penuh teka-teki, dan masih relevan, tetapi kini dengan pendekatan yang lebih dewasa dan emosional.
Benoit Blanc bukan lagi sekadar detektif yang datang untuk memecahkan kasus. Ia adalah bagian dari konflik itu sendiri. Ini bukan sekadar film tentang siapa pelakunya, melainkan tentang apa arti menemukan kebenaran, dan apakah semua kebenaran memang ingin di ungkap.





