Setiap trader pasti pernah melakukan kesalahan di awal mereka mulai trading forex, tak terkecuali trader berpengalaman. Kesalahan ini dapat berujung pada kerugian yang acap kali dikaitkan dengan faktor eksternal. Meskipun tak dapat menghindari sepenuhnya, trader forex pemula dapat memetik beberapa pelajaran dari pengalaman-pengalaman trader sebelumnya. Dengan demikian, pemula tidak mengulang kesalahan yang dulu pernah dilakukan oleh trader berpengalaman.
Oleh karena itu, artikel berikut ini akan membahas mengenai 8 kesalahan umum yang kerap dilakukan oleh trader pemula dan cara untuk menghindarinya.
1. Trading Tanpa Pemahaman Dasar yang Cukup
Kesalahan pertama dan paling utama adalah melakukan trading forex tanpa pemahaman dasar yang cukup. Kesalahan ini dapat terjadi karena pemula tergiur dengan potensi keuntungan yang ditawarkan trading forex. Akibatnya, mereka kurang meluangkan waktu dan pikiran untuk mempelajari dan memahami dasar-dasar trading forex, seperti istilah-istilah dasarnya, cara kerja pasar forex, macam-macam grafik untuk analisis, cara-cara analisis pasar forex, prinsip dasar cfd trading, dan banyak lagi.
Untuk menghindari kesalahan umum ini, pemula yang tertarik terjun dalam dunia trading forex perlu menyadari bahwa mereka harus mempelajari dasar-dasar trading forex terlebih dahulu. Jangan terburu-buru terjun tanpa pemahaman dasar yang kuat. Serta luangkan waktu yang cukup untuk memahami dunia trading forex.
2. Mengabaikan Manajemen Risiko
Kesalahan berikutnya yang masih berkaitan dengan kesalahan pertama adalah mengabaikan manajemen risiko. Pemula yang tidak meluangkan cukup waktu untuk mempelajari dasar-dasar trading forex mungkin akan melewatkan pelajaran mengenai manajemen risiko. Padahal, manajemen risiko ini sangat penting artinya guna meminimalisir risiko kerugian yang menjadi momok trader forex setiap hari.
Praktik manajemen risiko di antara lain meliputi memasang stop loss dan take profit untuk melakukan eksekusi order otomatis ketika harga menyentuh poin tertentu hingga mempertaruhkan sebagian besar modal dalam satu transaksi tanpa menerapkan prinsip penentuan berapa persen dari modal yang bisa dipertaruhkan. Penggunaan stop loss bertujuan untuk mencegah trader mengalami kerugian yang teramat dalam, sedangkan penggunaan take profit bertujuan untuk mengambil keuntungan segera secara otomatis setelah target keuntungan tercapai.
3. Overtrading
Kesalahan berikutnya adalah overtrading. Kesalahan ini terjadi ketika pemula sangat berapi-api melakukan trading agar bisa menghasilkan uang dengan cepat. Trader yang melakukan kesalahan ini lebih seperti halnya seorang penjudi yang melakukan keputusan bukan berdasarkan analisis, melainkan berdasarkan emosi dan impulsivitas.
Untuk menghindari melakukan kesalahan ini, pemula perlu mengetahui bahwa trader yang berhasil bukanlah trader yang bisa menghasilkan keuntungan dengan cepat, melainkan trader yang bisa konsisten. Percuma saja bisa menghasilkan keuntungan dengan cepat jika kehilangannya juga cepat.
4. Menggunakan Leverage Terlalu Besar
Leverage sering disalahartikan sebagai alat untuk memperbesar keuntungan dengan cepat. Padahal, leverage juga memperbesar risiko dalam waktu yang sama.
Pemula kerap tergoda menggunakan leverage tinggi tanpa memahami dampaknya. Pergerakan harga kecil saja bisa langsung berdampak besar pada modal. Leverage seharusnya digunakan sebagai alat bantu, bukan senjata utama
5. Emotional Trading
Dua emosi paling berbahaya dalam trading adalah fear (takut) dan greed (serakah). Pemula sering menutup posisi terlalu cepat karena takut profit berubah menjadi rugi, atau justru menahan posisi rugi terlalu lama dengan harapan harga akan berbalik.
Kesalahan lain yang sering muncul adalah revenge trading, yaitu membuka posisi baru hanya untuk “membalas” kerugian sebelumnya. Trading yang didorong emosi hampir selalu berakhir dengan keputusan yang buruk.
6. Tidak Memiliki Strategi Trading yang Jelas
Sebagian pemula membuka posisi tanpa aturan yang jelas. Mereka tidak tahu alasan masuk market, kapan harus keluar, atau kondisi apa yang membatalkan rencana trading.
Tanpa strategi yang konsisten, hasil trading sulit dievaluasi. Setiap profit atau kerugian terasa seperti kebetulan, bukan hasil dari proses yang terukur. Strategi sederhana yang dijalankan dengan disiplin jauh lebih efektif dibanding strategi rumit yang tidak konsisten.
7. Tidak Memanfaatkan Akun Demo dan Jurnal Trading
Banyak pemula menganggap akun demo tidak penting dan langsung beralih ke akun real. Padahal, akun demo adalah sarana belajar yang aman untuk memahami platform, strategi, dan perilaku pasar.
Selain itu, tidak sedikit trader yang mengabaikan jurnal trading. Tanpa catatan, kesalahan yang sama cenderung terulang. Jurnal trading membantu Anda melihat pola keputusan, mengevaluasi kesalahan, dan memperbaiki performa secara objektif.
8. Bergantung pada Pendapat Orang Lain
Kesalahan lain yang sering dilakukan pemula adalah terlalu bergantung pada sinyal trading, rekomendasi grup, atau pendapat orang lain tanpa memahami alasan di balik keputusan tersebut. Pemula cenderung merasa lebih aman mengikuti orang yang dianggap “lebih berpengalaman”, padahal belum tentu strategi tersebut sesuai dengan kondisi akun, toleransi risiko, atau gaya tradingnya sendiri.
Masalah muncul ketika sinyal mengalami kerugian. Trader tidak tahu apakah harus menahan posisi, cut loss, atau menambah transaksi, karena sejak awal tidak memahami dasar analisisnya. Ketergantungan seperti ini membuat proses belajar terhambat dan justru meningkatkan risiko kerugian. Dalam jangka panjang, trader perlu membangun pemahaman dan keputusan sendiri agar tidak selalu bergantung pada pihak lain.
Penutup
Kesalahan dalam trading forex adalah bagian dari proses belajar, terutama bagi pemula. Namun, kesalahan yang sama akan menjadi penghambat jika tidak disadari dan diperbaiki. Dengan memahami kesalahan-kesalahan umum seperti kurangnya pemahaman dasar, buruknya manajemen risiko, hingga keputusan berbasis emosi, Anda dapat meminimalkan kerugian sejak awal. Trading forex bukan tentang seberapa cepat Anda untung, melainkan seberapa baik Anda mengelola risiko dan belajar dari setiap proses yang dijalani.




