Loki berasal dari Elbaf pertama kali muncul sebagai karakter yang penuh ancaman dan seolah perlu dikendalikan. Dia yang konon telah menghabisi nyawa ayahnya demi mendapatkan Buah Iblis ini dianggap sebagai pangeran bencana, sosok yang akan merusak desa hanya untuk kesenangan semata. Namun, apakah itu benar? Berikut kisah tragis Loki di One Piece.
Dalam perjalanan panjang di arc Elbaf, berbagai stigma yang melekat pada Loki perlahan-lahan mulai runtuh. Meski sikapnya yang menyebalkan, ucapannya yang pedas, dan gambaran buruk yang melekat padanya, terdapat satu kenyataan pahit: sejak lahir, Loki hampir tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk dipahami.
Kisah Tragis Loki di One Piece
Ia sudah tidak disukai bahkan sebelum memiliki kesempatan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Kemudian, kisah tragis apa saja yang telah menciptakan sosok Loki di One Piece?
1. Ditolak oleh ibu biologis dan terasing

Kisah Loki dimulai pada masa awal kehidupannya, ketika ia belum sepenuhnya memahami dunianya. Ibunya, Estrid, adalah seorang raksasa wanita yang dikenal karena kecantikan, kelembutan, dan kepercayaannya yang kuat terhadap ramalan serta mitos.
Namun, keyakinan ini juga menjadi sumber kesedihan bagi Loki. Setelah melahirkan Loki, yang memiliki ciri-ciri fisik yang tidak biasa, Estrid melihatnya sebagai pertanda kurang baik. Ketersinggungan tersebut membuatnya memutuskan untuk mengabaikan Loki dan membuangnya ke Underworld, wilayah terdalam di Elbaf yang dikenal berbahaya.
Loki selamat karena garis keturunan dari ayahnya yang merupakan raksasa kuno, yang memberinya kekuatan untuk bertahan hidup. Ia berhasil merangkak keluar dari Underworld dan kembali ke kastil sebuah pencapaian luar biasa untuk bayi dengan latar belakang seperti dirinya.
Namun, meski ia mampu bertahan secara fisik, luka yang paling mendalam justru berasal dari pengalaman emosionalnya. Sejak kecil hingga dewasa, Loki menutupi matanya dengan kain sebagai simbol dari rasa sakit yang ditimbulkan oleh perlakuan ibunya. Kendati ia menyimpan perasaan negatif terhadap Estrid, respon ibunya terhadap kondisinya telah meninggalkan dampak psikologis yang signifikan.
2. Dikenakan tuduhan meskipun situasi di luar kontrolnya

Sekitar enam dekade yang lalu, Elbaf menghadapi serangkaian bencana besar yang mengubah nasib desa tersebut. Salah satu peristiwa penting adalah serangan yang dilancarkan oleh Charlotte Linlin, yang berujung pada kematian sosok legendaris, Beardfall Jorul, dan menghancurkan infrastruktur desa.
Tidak lama setelah kejadian tersebut, Elbaf juga mengalami tantangan tambahan berupa kebakaran, badai hebat, dan musim dingin yang ekstrem. Keadaan ini menyebabkan gangguan pada pasokan pangan dan memperparah kondisi kehidupan masyarakat.
Tragedi yang terjadi mencakup semua lapisan masyarakat Elbaf, namun seorang tokoh bernama Estrid, ibu dari Loki, menjadikan takhayul sebagai pegangan untuk menjelaskan malapetaka ini. Ia percaya bahwa kesulitan yang dihadapi adalah akibat kesalahan putranya, Loki, yang semakin memperkuat pandangan di kalangan rakyat Elbaf bahwa pangeran mereka sedang mengalami kutukan.
Hal ini menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk mencari penjelasan melalui mitos dalam situasi yang sulit. Situasi yang dialami Loki sangat tragis, mengingat usianya yang masih muda dan ketidakmampuannya untuk membela diri atas tuduhan yang ditimpakan padanya. Dalam bab 1154, kondisi emosional yang dialami Loki digambarkan dengan sedih, mencatat bahwa dalam waktu singkat, ia kehilangan harapan untuk mendapatkan cinta setelah pemakaman ibunya, Estrid.
3. Kehilangan Sosok Panutannya

Masa kecil Loki yang dipenuhi dengan kesedihan memberikan dampak signifikan terhadap minatnya terhadap tema keruntuhan dunia. Dalam pemahaman komunitas global yang mendalami mitologi terkait, Nika dipandang memiliki dualitas: sebagai sosok pembebas dan sekaligus penghancur.
Loki beranggapan bahwa Nika merupakan entitas yang memiliki senyuman saat mempengaruhi perubahan besar dalam dunia. Ia juga berkeyakinan bahwa Rocks adalah representasi dari Nika. Namun, Rocks menegaskan kepada Loki bahwa tujuannya bukan untuk menghancurkan dunia, melainkan untuk mengendalikannya.
Meskipun demikian, Loki tetap merasa kagum terhadap Rocks dan bercita-cita untuk dapat berlayar bersamanya. Sayangnya, sebelum Loki memperoleh kekuatan yang diperlukan untuk menarik perhatian Rocks, Rocks telah menemui ajalnya di God Valley. Ketika Loki menerima kabar tentang kematian Rocks di chapter 1166, ia tidak dapat menahan air matanya.
4. Kehilangan sosok wanita yang ia pandang sebagai ibunya

Meskipun Estrid dan Loki terikat oleh hubungan darah, keduanya tidak pernah menjalin ikatan emosional sebagai ibu dan anak. Hal ini terlihat dari sikap Loki yang sejak awal tidak sepenuhnya menganggap Estrid sebagai ibunya. Sebagai pengganti, Loki menemukan sosok yang lebih memenuhi kebutuhan emosionalnya dalam diri Ida, ibu dari Hajrudin, yang adalah saudaranya dari pihak ayah.
Ida memberikan bentuk penerimaan yang tidak dapat diberikan oleh Estrid atau lingkungan Elbaf, dengan tidak memedulikan rumor, prasangka kuno, atau penampilan aneh yang melekat pada Loki. Dalam pandangan Ida, Loki adalah anak yang layak dicintai tanpa syarat.
Awalnya, hubungan Loki dengan Hajrudin, putra Ida, tidaklah harmonis; Loki pernah meremehkan Hajrudin dengan menyebutnya sebagai “anak dari wanita berdarah tercemar” karena Ida bukanlah perempuan asli dari Elbaf. Namun, seiring berjalannya waktu, Ida berhasil menciptakan rasa aman bagi Loki. Ia perlahan mulai menganggap Ida sebagai sosok ibu sejati yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.
Tragedi menimpa Ida ketika ia menjadi korban racun yang diberikan oleh penduduk Desa Brewers, yang merupakan tempat asal Estrid. Tindakan itu didorong oleh ketakutan bahwa Ida akan diangkat menjadi ratu.
Akibat ketidakadilan ini, Loki merasakan kemarahan dan kesedihan yang mendalam, dan ia membalas dendam dengan menghancurkan Desa Brewers. Sayangnya, masyarakat hanya melihat dampak dari tindakannya, tanpa memahami motivasi di baliknya. Karena hukuman penjara yang sedang dijalaninya, Loki tidak dapat berada di sisi Ida saat ia menghembuskan nafas terakhir.
5. Harald begitu terjebak dalam kesibukan hingga tak bisa mengamati wajah asli putranya

Sebagai pemimpin Elbaf, Harald menghadapi sejumlah tanggung jawab yang sangat besar. Ia berusaha untuk menciptakan perdamaian di Elbaf dan meningkatkan penerimaan bangsa raksasa di hadapan Pemerintah Dunia. Aktivitas ini sering kali membuatnya tidak memiliki waktu untuk beristirahat.
Harald sering meninggalkan pulau untuk melaksanakan misi diplomatik, dan ketika berada di Elbaf, ia biasanya disibukkan dengan berbagai isu krisis, persoalan politik, serta urusan pemerintahan. Kesibukan ini menyebabkan jarangnya interaksi yang mendalam dengan orang-orang di sekelilingnya. Dalam analisis lebih jauh, Harald tampak kurang menyadari penderitaan yang dialami putranya, Loki.
Keengganannya untuk mendalami situasi yang dihadapi Loki bukan disebabkan oleh kebencian, melainkan oleh jarangnya ia berada di rumah untuk memahami keadaan emosional yang terjadi. Selama masa-masa sulit bagi Loki, termasuk pengasingan dan cemoohan yang ia terima, serta kehilangan sosok ibu, Harald sering kali berada di lokasi yang jauh.
Kondisi ini memberikan dampak pada hubungan mereka, yang cenderung terasa dingin. Meskipun Harald diakui atas kekuatan dan keberaniannya oleh tokoh seperti Rocks D. Xebec, Loki tetap mengalami kesulitan untuk menjalin kedekatan dengan ayahnya.
6. Terdapat petunjuk bahwa ia terpaksa menghabisi nyawa ayahnya

Dalam bab 1167, karakter bernama Harald diberikan kehormatan yang signifikan dengan diangkat menjadi Pedang Dewa. Bersamaan dengan itu, Gorosei mengemukakan janji terkait status suku Elbaf, yang akan diakui secara resmi oleh Pemerintah Dunia jika Harald mendapatkan promosi sebagai Kesatria Dewa.
Namun, janji ini disertai konsekuensi yang serius. Pengalaman yang ditunjukkan oleh Kesatria Dewa lainnya menunjukkan bahwa promosi tersebut memungkinkan Imu untuk menguasai tubuh dan kehendak individu. Sebagai contoh, Gunko adalah sosok yang sepenuhnya dapat dipengaruhi oleh Imu. Dalam konteks ini, tragedi yang dialami oleh karakter lain, Loki, mulai menunjukkan dimensi yang lebih gelap.
Pada bab 1152, ketika Loki menceritakan pengalamannya, ia mengungkapkan bahwa tanggal kematian Harald adalah hari yang kelam yang ingin ia lupakan. Pernyataan ini menunjukkan kompleksitas emosional yang lebih dalam daripada sekadar rasa kehilangan yang dialami seorang anak terhadap ayahnya.
Hal ini menunjukkan ketidakselarasan dengan tindakan yang diambil Loki, yang menghabisi ayahnya demi mendapatkan Buah Iblis Elbaf. Dari sini, muncul petunjuk yang mencemaskan tentang kemungkinan kebangkitan konflik antara Loki dan ayahnya, yang mungkin sudah berada di bawah pengaruh Imu.
Jika skenario ini terjadi, maka penderitaan yang dialami Loki akan semakin mendalam. Ia tidak hanya kehilangan ayahnya tetapi juga terpaksa memikul tanggung jawab untuk mengatasi situasi yang lebih buruk. Seperti tragedi lainnya dalam hidupnya, kisah Loki mungkin tidak akan diterima atau dipahami oleh orang lain.
Itulah kisah yang dialami oleh Loki di cerita One Piece yang dapat dianggap menyedihkan.




