ASEAN Foundation, dengan dukungan penuh dari Google.org, secara resmi meluncurkan laporan riset bertajuk “AI Ready ASEAN”. Studi mendalam ini memetakan kesiapan adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) di sepuluh negara anggota ASEAN, dengan fokus utama pada komunitas pendidikan.
Temuan riset ini mengungkapkan fakta krusial: terdapat kesenjangan lebar antara tingginya tingkat penggunaan AI dengan kesiapan literasi, pemahaman etika, serta dukungan institusional yang sebenarnya.
Kesenjangan Adopsi AI di Indonesia

Berdasarkan data riset terbaru, Indonesia menunjukkan angka penggunaan teknologi AI yang sangat progresif di kalangan generasi muda. Berikut adalah rincian tingkat penggunaan AI Generatif di Indonesia:
| Kelompok Responden | Tingkat Penggunaan AI |
| Siswa | 95,25% |
| Orang Tua | 62,19% |
| Pendidik | 46,20% |
Data di atas menunjukkan adanya kesenjangan digital antar generasi. Sementara siswa hampir sepenuhnya telah mengadopsi perangkat AI, para pendidik dan orang tua masih menghadapi tantangan berupa kurangnya kepercayaan diri serta keterbatasan akses pelatihan yang terstruktur.
Tantangan Institusional dan Literasi AI

Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Piti Srisangnam, menegaskan bahwa fokus saat ini bukan lagi sekadar pada penggunaan alat, melainkan kesiapan sistem secara menyeluruh.
Beberapa poin tantangan yang dicatat dalam riset meliputi:
- Kurangnya Panduan Kebijakan
- Kurang dari separuh pendidik di ASEAN menyatakan institusi mereka memiliki kebijakan AI yang jelas.
- Keamanan Siber
- Dukungan terhadap keamanan data dalam penggunaan AI masih tergolong rendah di lingkungan sekolah.
- Kecepatan Adopsi vs Etika
- Adopsi teknologi digital melaju lebih cepat daripada kesiapan etika dan masyarakat dalam mengelolanya.
Mendorong Peluang Inklusif melalui Investasi Literasi
Marija Ralic, Kepala Google.org Asia Pasifik, menekankan pentingnya investasi besar dalam literasi AI, khususnya bagi komunitas pendidik.
“Temuan ini menegaskan pentingnya investasi dalam literasi AI agar kemajuan teknologi benar-benar dapat diterjemahkan menjadi peluang yang inklusif bagi semua,” pungkas Marija Ralic.
Riset AI Ready ASEAN ini diharapkan menjadi dasar bagi pembuat kebijakan di Asia Tenggara untuk merancang kurikulum dan pelatihan yang mampu memperkecil celah literasi teknologi di masa depan.
Baca Juga:





