Rage in Peace : Game PC Asal Bandung yang Dapat Menguji Kesabaranmu

in , ,
Maxresdefault 2

Rage in Peace pertama kali dikembangkan pada bulan November 2014 dalam acara game jam bertajuk Indies VS PewDiePie. Game jam ini merupakan hasil kerja sama Game Jolt dengan PewDiePie, dan mengusung tema game yang “fun to play, fun to watch”.

Akan ada 10 game terbaik yang  dimainkan di channel PewDiePie. Sayangnya Rage in Peace gagal masuk sepuluh besar, tapi mereka beruntung karena PewDiePie tidak puas hanya main sepuluh game. Ia terus mencoba-coba game lain, termasuk Rage in Peace yang menduduki peringkat tujuh belas dari sekitar 800 peserta. Video PewDiePie memicu minat para gamer, termasuk YouTuber lain, untuk memainkan karya developer asal Bandung ini.

Melihat banyaknya reaksi positif dari para gamer, Damas bersama timnya yang disebut Rolling Glory Jam akhirnya memutuskan untuk membuat ulang Rage in Peace menjadi sebuah game utuh. Prototipe gameplay serta desain level dari hasil game jam dulu kini dikembangkan dengan tampilan visual yang jauh lebih terpoles, serta fokus yang lebih kuat pada cerita.

Rage in Peace Terinspirasi Dari Filosofi Paulo Coelho

Rage in Peace bercerita tentang Timmy Malinu, seorang pemuda yang tiba-tiba mendapat pesan dari Grim Reaper bahwa ia akan mati hari ini. Timmy sebenarnya tidak takut mati. Namun ia punya satu impian sederhana. Ia ingin mati dalam keadaan tidur tenang di rumah. Rage in Peace adalah kisah perjalanan Timmy dari kantor menuju ke rumah di hari kematiannya itu.

Rage In Peace Game

Inspirasi untuk membuat game dengan tema seperti ini muncul dari karya Paulo Coelho yang berjudul Like the Flowing River. Dalam buku tersebut, Paulo mengatakan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang mati dalam keadaan memakai piama. Sebab kemungkinan ketika mati ia sedang tertidur, atau sedang sakit dan ditemani keluarganya.

Filosofi tersebut mendorong Damas untuk mengajak kita semua lebih sering mengingat kematian di kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui game. Rage in Peace memang bisa dimainkan sebagai hiburan ringan. Tapi untuk mereka yang mau berpikir lebih jauh, Rage in Peace juga bisa jadi bahan renungan yang lebih serius.

Kami ingin tahu, apakah orang-orang bisa jadi lebih baik bila hidup dengan selalu mengingat kematian? Sebenarnya kan yang jadi masalah bukan mati itu sendiri. Tapi apa yang kamu pikirkan andai kamu tahu bahwa kamu akan mati hari ini.

Side-scrolling action, apalagi rage game, mungkin bukan genre yang lumrah digunakan untuk menyampaikan cerita dengan pesan mendalam. Namun menurut Damas, pesan ini tetap bisa disampaikan walau tidak secara eksplisit. Layaknya film Zootopia atau Inside Out, Rage in Peace mengadopsi teknik layering dalam ceritanya. Cerita di permukaan memang lucu dan simpel, tapi ada pesan tersembunyi bila digali lebih dalam.

Rage In Peace

Konsep Rage in Peace yang unik serta tim Rolling Glory Jam dengan visi mereka untuk “stay small” merupakan sebuah warna baru di dunia industri game tanah air. Saat ini Rage in Peace memang masih dalam tahap pengembangan. Jadi kita belum bisa melihat bukti nyata keberhasilan visi tersebut. Namun berdasarkan reaksi para YouTuber, serta setelah mencobanya sendiri. Saya rasa game ini punya potensi yang sangat baik.

Rage in Peace direncanakan untuk rilis pada tahun 2018 di PC via Steam. maka dari itu pasti sudah tidak sabar kan untuk memainkanya. Ditunggu aja ya guys. Untuk itu bisa mencoba game demonya loh.

Editor : channabeck