Ryan Gosling memimpin Project Hail Mary yang berdurasi 156 menit dengan modal produksi yang dilaporkan mencapai US$190 juta, dan angka itu memang terasa di layar. Film sci-fi garapan Chris Miller dan Phil Lord, dari adaptasi Drew Goddard atas novel Andy Weir, ini datang sebagai tontonan besar yang menjual skala, IMAX, dan rasa petualangan luar angkasa yang serius.
Buat yang mencari review Project Hail Mary, kabar singkatnya jelas: ini film yang sangat ambisius, sangat sinematik, dan tetap menyisakan beberapa ganjalan di sisi cerita.
Review Film Project Hail Mary: Spektakel Sci-Fi yang Serius

Sebagian besar footage ruang angkasa dalam film ini diformat untuk rasio aspek IMAX, dan itu bukan sekadar tempelan marketing. Dari visual effect sampai kesan fisik di setiap set, film ini terasa seperti produksi yang punya waktu dan tenaga untuk mengerjakan detailnya dengan rapi.
Mendelson menyorot bahwa komentar “no green screens” bukan berarti film ini minim efek. Justru sebaliknya, Project Hail Mary penuh FX, tapi tampil dengan tekstur yang meyakinkan dan praktis.
Sekilas Tentang Cerita Project Hail Mary

Gosling berperan sebagai Dr. Ryland Grace, seorang ahli biologi molekuler yang terbang sendirian untuk mencari jawaban atas masalah yang membuat matahari meredup. Hampir seluruh film bergantung dan berfokus pada dirinya, dan itu jadi kekuatan sekaligus ujian utama proyek ini.
Karena begitu banyak adegan mengandalkan satu sosok, performa Gosling jadi pusat gravitasi film. Mendelson menyebut perannya “almost too cast-to-type,” tapi justru itu yang membuatnya efektif sebagai karakter yang harus tetap menarik ketika sendirian di tengah kekacauan kosmik.
Film ini dibuka dengan Dr. Grace terbangun di sebuah pesawat ruang angkasa bersama dua mayat astronaut lain yang gagal bertahan dalam hypersleep. Ia juga tidak ingat bagaimana atau kenapa dirinya bisa berada jauh sekali dari Bumi.
Momen ini jadi awal yang kuat karena film langsung menaruh penonton di situasi krisis. Dari sana, Project Hail Mary bergerak pelan untuk mengungkap apa yang terjadi, sambil membiarkan rasa bingung tetap hidup cukup lama.
Flashback yang penting, tapi sengaja ditahan

Alur mundur ke masa lalu memperlihatkan bagaimana Grace menyadari ancaman global dan akhirnya setuju memakai keahliannya untuk menyelematkan dunia. Bagian awal tersebut termasuk highlight film karena memberi bobot emosional saat dunia mulai dijelaskan.
Masalahnya, struktur flashback juga membuat film menahan beberapa detail penting lebih lama dari yang dibutuhkan. Buat sebagian penonton, itu bisa terasa sebagai misteri yang menggoda; buat yang lain, ritmenya malah terasa agak ditarik-tarik dan sedikit membosankan.
CGI Besar Yang Benar-Benar Memukau

Salah satu poin paling kuat di film ini adalah perpaduan antara spectacle dan rasa plausibel. CGI-nya besar, tapi tidak terasa kosong, karena film menempatkan elemen-elemen visual itu di dunia yang masih punya bobot.
Mendelson memuji kombinasi antara “believe your eyes” spectacle dan fantastical deep-space wonder yang tetap masuk akal di dalam logika film. Hasilnya, Project Hail Mary terasa seperti blockbuster Hollywood yang benar-benar ingin terlihat mahal dan terasa meyakinkan.
Tanpa memberi spoiler berlebihan, Dr. Grace akhirnya bertemu dengan sebuah makhluk alien berkaki lima yang disuarakan dan dipuppet oleh James Ortiz. Dinamika antara keduanya jadi salah satu elemen yang paling mudah diingat.
Hubungan ini sedikit terasa seperti upaya sengaja untuk memberi penonton “combo” manusia plus sidekick lucu agar cerita luar angkasa yang muram jadi lebih hangat. Pendekatan itu bekerja cukup baik, apalagi karena hubungan tersebut menambah lapisan emosional di tengah misi yang sifatnya nyaris bunuh diri.
Sainsnya padat, tapi tetap enak diikuti

Film ini tidak takut tampil science-heavy. Ada formula, eksperimen, dan teori yang dibungkus dengan cara yang tetap bisa diikuti penonton umum tanpa merasa sedang duduk di kelas fisika.
Mendelson menilai film ini berhasil menggabungkan bagian teknis yang sangat rumit dengan rasa “bisa dicoba di rumah,” yang terdengar konyol tapi justru jadi daya tariknya. Itulah salah satu alasan kenapa Project Hail Mary tidak cuma menjual visual, tapi juga ide.
Kalau ada area yang paling terasa agak kurang, itu ada di bagian akhir. Kenapa demiian? hal ini karena pacing issues paling banyak muncul pada 35–40 menit terakhir, ketika film mulai mengulangi ritme dan mengandalkan beberapa false ending.
Masalahnya bukan cuma durasi, tapi juga tarik-ulur tonal. Film ini ingin terasa seperti gabungan The Martian dan Ad Astra, tapi dua arah itu kadang saling bertabrakan.
Nada film kadang bingung mau sedih atau optimistis

Secara emosi, Project Hail Mary ingin menahan kesedihan sekaligus memberi harapan. Hanya saja, perpaduan itu tidak selalu mulus, karena film kadang terlalu fatalistik untuk terasa sepenuhnya uplifting.
Ada juga kesan bahwa film ini menahan penjelasan penting sehingga penonton dipaksa tetap bertanya-tanya lebih lama dari yang ideal. Buat film sebesar ini, misteri memang penting, tapi kalau terlalu ditahan, dorongan emosionalnya bisa ikut tertahan.
Di bagian Bumi, film ini menampilkan nama-nama seperti Sandra Hüller, Lionel Boyce, Ken Leung, dan Milana Vayntrub. Mendelson memuji momen Hüller dan menyebut Boyce punya beat yang menyenangkan sebagai petugas keamanan yang simpatik.
Namun, ia juga merasa beberapa pemain lain seperti Leung dan Vayntrub terasa seolah terpotong ruang geraknya. Jadi meski cast-nya menarik, film ini tetap milik Gosling hampir sepenuhnya.
Layak Untuk Di Tonton

Di tengah semua catatan kecil itu, Project Hail Mary tetap bekerja sebagai blockbuster yang aspiratif. Film ini memakai hampir semua alat yang ada untuk membangun pengalaman menonton yang khas Hollywood: megah, rapi, dan cukup menghibur.
Mendelson bahkan menyebut film ini sebagai semacam calling card untuk menunjukkan apa yang bisa diberikan Amazon MGM Studios jika diberi ruang bermain besar. Dan ya, ruang itu dipakai dengan percaya diri.
Cocok untuk penonton yang suka perjalanan, bukan cuma plot twist
Buat yang lebih suka film sci-fi sebagai pengalaman perjalanan, bukan sekadar teka-teki plot, Project Hail Mary punya daya tarik kuat. Ada sensasi seperti duduk santai di “lazy river” versi luar angkasa: tetap bergerak, tetap seru, dan kadang justru nikmat karena ritmenya tidak meledak-ledak terus.
Film ini mungkin bukan tipe sci-fi yang paling bagus di sisi narasi, tapi ia cukup kuat sebagai tontonan bioskop. Terutama kalau kamu menikmati film luar angkasa yang menaruh bobot pada usaha, kesepian, dan kerja keras manusia menghadapi situasi yang mustahil.
Kesimpulan Review Project Hail Mary
Project Hail Mary adalah sci-fi besar yang mengandalkan Ryan Gosling, visual IMAX, dan ide misi penyelamatan yang makin lama makin terasa emosional. Meski menurut kami masalah ritme dan beberapa pilihan struktur yang bikin film tidak sepenuhnya mulus, hasil akhirnya tetap terasa layak ditonton di bioskop.
Kalau kamu suka film luar angkasa yang penuh skala, sains, dan karakter sentral yang harus bertahan hampir sendirian, film ini punya banyak hal buat dinikmati. Dan kalau kamu penasaran, sisi paling menariknya mungkin justru ada pada cara film ini menjadikan satu perjalanan satu arah sebagai tontonan yang terasa hidup dari awal sampai adegan terakhir.
Criteria
- visual yang memukau
- tidak terlalu science-heavy yang bikin bingung
- ritme yang agak lambat




