Raksasa dirgantara Airbus baru saja sukses menguji coba drone interceptor terbaru bernama Drone Bird of Prey. Pesawat tanpa awak ini terancang khusus dengan kemampuan mencari, melacak, hingga menghancurkan drone kamikaze secara otonom tanpa perlu kendali langsung dari manusia.
Dalam uji coba perdana di area latihan militer Jerman Utara, Drone Bird of Prey berhasil menjalankan misi realistis menghadapi ancaman udara. Drone ini mampu mendeteksi dan mengklasifikasikan target berupa drone serangan satu arah secara mandiri.
Setelah target teridentifikasi, Airbus membekalinya dengan rudal udara-ke-udara Mark I berbiaya rendah buatan Frankenburg Technologies untuk melumpuhkan sasaran.
Spesifikasi Teknis Drone Bird of Prey

Drone Bird of Prey dikembangkan dari modifikasi drone target Do-DT25 dengan bentang sayap 2,5 meter dan bobot maksimal 160 kilogram. Berikut adalah beberapa detail teknis yang membuatnya unggul:
| Fitur Utama | Detail Spesifikasi |
| Kapasitas Persenjataan | Membawa 4 hingga 8 unit rudal Mark I. |
| Jangkauan Serang | Hingga 1,5 kilometer dengan sistem fire-and-forget. |
| Sistem Pendaratan | Menggunakan parasut terintegrasi di bagian ekor (Dapat digunakan kembali). |
| Analisis Biaya | Lebih efisien dan murah dibandingkan sistem pertahanan udara konvensional. |
Dengan kemampuan tersebut, satu unit Drone Bird of Prey dapat menghadapi beberapa target sekaligus dalam satu misi. Setelah rudal menembak, drone akan mendarat dengan aman untuk kemudian isi ulang dan terbang kembali.
Keunggulan Sistem Pertahanan Udara Terintegrasi
CEO Airbus Defence and Space, Mike Schoellhorn, menyatakan bahwa ancaman drone kamikaze kini menjadi prioritas utama dalam konflik modern. Melalui Drone Bird of Prey, pihaknya menghadirkan solusi yang efektif untuk menutup celah kemampuan militer saat ini.
“Integrasi Drone Bird of Prey ke dalam sistem manajemen pertempuran pertahanan udara Airbus (IBMS) berfungsi sebagai pengganda kekuatan (force multiplier),” tutur Schoellhorn.
Drone ini terhubung dengan sistem pertahanan udara yang lebih luas, sehingga dapat beroperasi sebagai bagian dari jaringan pertahanan berlapis milik NATO.
Airbus dan Frankenburg Technologies berencana melanjutkan serangkaian uji coba sepanjang tahun 2026, termasuk pengujian menggunakan hulu ledak aktif.
Langkah ini guna menyempurnakan kemampuan operasional drone interceptor ini sekaligus menarik minat calon pengguna dari berbagai kalangan militer dunia.
Baca Juga:




