TeknoBerita Teknologi

Menkomdigi Meutya Hafid Ajak Anak Muda Jadi Duta PP Tunas

Menkomdigi Meutya Hafid mengajak wisudawan menjadi pandu literasi digital dan duta PP Tunas guna menjaga kualitas informasi di Indonesia.

Menkomdigi Meutya Hafid secara tegas mengajak generasi muda, khususnya para lulusan perguruan tinggi, untuk mengambil peran aktif sebagai penjaga ruang digital Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi yang tidak terbendung, peran kaum intelektual muda dinilai sangat krusial untuk memastikan ekosistem digital nasional tetap sehat, aman, dan produktif.

“Di era post-truth, tantangan kita bukan lagi pada akses informasi, tetapi pada kualitasnya. Karena itu, para wisudawan harus bisa berperan juga sebagai agen perubahan dan menjadi pandu-pandu literasi digital di daerahnya masing-masing,” kata Meutya Hafid sebagaimana dikutip dari kantor berita Antara pada Minggu, 26 April 2026.

Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa gelar akademik yang diraih mahasiswa bukan sekadar simbol pencapaian pribadi, melainkan tanggung jawab sosial untuk mengedukasi masyarakat di tengah tantangan banjir informasi dan risiko misinformasi yang kian nyata.


Tantangan Era Post-Truth dan Banjir Informasi

Menkomdigi Meutya Hafid ajak wisudawan hadapi era post-truth untuk jaga ruang digital dari hoax
Komdigi

Derasnya arus data di era digital saat ini menciptakan paradoks baru. Di satu sisi, pengetahuan begitu mudah dijangkau; namun di sisi lain, muncul fenomena banjir informasi yang sering kali bercampur dengan hoaks atau berita bohong.

Fenomena ini diperparah dengan masuknya era post-truth, di mana fakta objektif sering kali kalah berpengaruh dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi dalam membentuk opini publik.

Oleh karena itu, lulusan perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang pasif. Menkomdigi Meutya Hafid menekankan bahwa mereka harus bertransformasi menjadi agen perubahan yang mampu menyaring informasi sebelum disebarluaskan. Kualitas informasi di ruang digital menjadi harga mati untuk menjaga stabilitas sosial dan kemajuan bangsa.


Implementasi PP Tunas, Perlindungan Anak di Dunia Maya

Salah satu poin penting dalam pidato Menkomdigi Meutya Hafid adalah penegasan pemerintah dalam mengambil langkah preventif melalui regulasi yang adaptif. Pemerintah baru-baru ini menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Dalam Pelindungan Anak, atau yang lebih dikenal sebagai PP Tunas.

Regulasi ini dirancang khusus untuk membatasi akses platform digital yang dinilai berisiko tinggi bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun. Meutya Hafid berharap para lulusan baru dapat menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyosialisasikan aturan ini ke daerah asal mereka.

“Kami ingin menyampaikan kepada para wisudawan dan wisudawati untuk juga menjadi duta-duta Tunas yang bisa membantu pemerintah menjaga keberlangsungan anak-anak kita agar mereka bisa hidup di ranah digital dan mendapatkan yang terbaik dan mengeluarkan yang mudarat,” jelas Menkomdigi.


Literasi Digital dan Etika Kecerdasan Buatan (AI)

Tingkat adopsi teknologi di Indonesia yang sangat tinggi merupakan kekuatan besar sekaligus tantangan yang berat. Meskipun masyarakat Indonesia dikenal cepat beradaptasi dengan teknologi baru, hal ini belum sepenuhnya dibarengi dengan penguatan literasi digital dan kesadaran etika yang mendalam.

Persoalan ini menjadi semakin kompleks dengan kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menkomdigi menekankan bahwa pengelolaan ruang digital nasional harus bertumpu pada prinsip kehati-hatian. Negara berkomitmen memastikan pemanfaatan teknologi, termasuk AI, dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan, transparansi, dan kepentingan manusia.

“Kita tetap harus berhati-hati agar adopsi AI diikuti dengan rasa tanggung jawab, rasa keamanan, etika, transparansi, dan orientasi pada kepentingan manusia. Jadi meregulasi dengan ketat itu menjadi salah satu cara kita mengamankan tanpa bermusuhan dengan inovasi,” tambah Meutya.


Kolaborasi Menuju Ruang Digital yang Berdaya Saing

Negara tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi kompleksitas tantangan di era digital. Dibutuhkan kolaborasi erat dari seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga peran aktif anak muda. Kolaborasi ini bertujuan untuk membangun ruang digital Indonesia yang lebih aman, beretika, dan memiliki daya saing global.

Tanggung jawab lulusan perguruan tinggi justru baru dimulai ketika mereka terjun ke masyarakat. Mereka membawa misi besar untuk membangun lingkungan digital yang mendidik, bukan yang memecah belah.

Dengan menjadi pandu literasi, lulusan kampus diharapkan mampu meredam konten negatif seperti judi online, perundungan siber (cyberbullying), hingga penyebaran paham radikal di internet.

Sebagai penutup, Menkomdigi mengingatkan bahwa inovasi teknologi harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ruang digital Indonesia harus menjadi tempat yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemajuan bangsa, bukan justru menjadi sumber kemudaratan bagi generasi mendatang.

Demikian ulasan mengenai ajakan Menkomdigi kepada generasi muda untuk menjaga ekosistem digital Indonesia. Agar tetap mendapatkan informasi terkini seputar kebijakan teknologi, literasi digital, dan berita viral lainnya, pastikan untuk selalu mengunjungi Dafunda setiap harinya!