Tumbuh di era teknologi digital nyatanya membawa harga yang mahal bagi kesehatan mental Gen Z. Meskipun sering mendapat label sebagai generasi yang “lembek”, nyatanya Gen Z menghadapi gempuran informasi dan tekanan hidup yang belum pernah generasi sebelumnya alami.
Dari kebiasaan scrolling tanpa henti hingga ekspektasi media sosial, otak mereka dipaksa bekerja overtime, yang sering kali berujung pada kelelahan mental.
Berikut adalah delapan gangguan psikologis modern yang saat ini memengaruhi tingkat fokus dan kesejahteraan para anak muda, sebagaimana yang Dafunda rangkum dari berbagai sumber.
8 Penyakit Mental yang Rawan Serang Gen Z

1. Brain Rot dan Dopamine Addiction
Istilah brain rot (otak membusuk) viral untuk menggambarkan kondisi kognitif yang tumpul akibat terlalu banyak mengonsumsi konten singkat tak berfaedah.
Fenomena ini erat kaitannya dengan kecanduan dopamin instan. Setiap kali menggeser video pendek, otak melepas hormon pemicu rasa senang yang secara perlahan merusak rentang perhatian (attention span).
2. Doomscrolling dan Overstimulation
Terjebak membaca berita buruk di media sosial hingga cemas disebut doomscrolling. Jika digabung dengan notifikasi ponsel yang bertubi-tubi, hal ini memicu stimulasi sensorik berlebih (overstimulation).
Akibatnya, sistem saraf terus berada dalam mode waspada yang menguras energi dan memicu kecemasan kronis.
3. Burnout dan Brain Fry
Kelelahan mental yang ekstrem atau burnout kini telah masuk dalam klasifikasi sebagai fenomena pekerjaan global oleh WHO.
Di kalangan Gen Z yang menghadapi hustle culture, kondisi ini memuncak menjadi brain fry—fase ketika otak terasa “mogok” bekerja karena terlalu lama melakukan multitasking.
4. Digital ADHD (Acquired Attention Deficit)
Banyak anak muda merasa mengidap ADHD karena mudah terdistraksi. Jurnal medis JAMA menyoroti bahwa penggunaan media digital intensif dapat memicu acquired attention deficit.
Ini adalah salah satu gangguan psikologis modern di mana otak terbiasa melompat dari satu tab ke tab lain tanpa penyelesaian yang bermakna.
5. Decision Fatigue dan Imposter Syndrome
Di era pilihan yang tak terbatas, Gen Z dihantui oleh decision fatigue (kelelahan mengambil keputusan).
Selain itu, paparan kesuksesan orang lain di Instagram sering memicu imposter syndrome—perasaan rendah diri di mana seseorang merasa pencapaiannya hanyalah faktor keberuntungan semata.
6. Loneliness Epidemic dan Social Anxiety
Ironisnya, generasi yang paling terhubung secara digital justru mengalami tingkat kesepian yang tinggi.
Kurangnya koneksi autentik di dunia nyata membuat banyak orang mengembangkan gangguan psikologis modern berupa kecemasan sosial (social anxiety) yang parah saat harus berinteraksi tatap muka.
7. Revenge Bedtime Procrastination
Fenomena ini terjadi saat seseorang sengaja menunda waktu tidur malam untuk “membalas dendam” atas waktu siang yang habis tersita pekerjaan atau kuliah.
Sayangnya, kebiasaan ini memperparah siklus kelelahan mental di keesokan harinya karena kurangnya waktu istirahat yang berkualitas.
8. Popcorn Brain
Istilah popcorn brain mendeskripsikan kecenderungan pikiran untuk melompat-lompat dengan perhatian yang terfragmentasi layaknya biji jagung yang meletup.
Penyebab utamanya adalah paparan konten pendek secara terus-menerus. Untuk menjaga kesehatan mental Gen Z, para ahli menyarankan praktik mindfulness dan membatasi penggunaan gawai secara ketat sebagai bentuk detoks digital.
Baca Juga:





