AIApps & OSBerita TeknologiTekno

Perplexity Comet Rilis di Android, Tawarkan Beli Google Chrome USD 34,5 M

Browser AI Perplexity Comet resmi di Android! Cek fitur multitasking dan pemblokir iklan. Perplexity juga tawar Google Chrome Rp 560 T.

Perplexity telah secara resmi memperluas jangkauan browser berbasis kecerdasan buatan miliknya, Comet, ke platform Android. Langkah ini merupakan upaya strategis Perplexity untuk menghadirkan pengalaman menjelajah internet yang jauh lebih cerdas, langsung dari perangkat mobile, menyusul peluncuran versi desktop pada Juli 2025.

Pengguna Android kini dapat menjadikan Comet sebagai mesin pencari utama mereka, namun keunggulan browser ini jauh melampaui fungsi pencarian standar.

Comet terancang sebagai asisten digital aktif. Ia memiliki teknologi AI canggih yang memungkinkan pengguna memberikan perintah melalui suara, bahkan dapat menanyakan informasi terkait seluruh tab yang sedang terbuka secara bersamaan fitur yang sangat efisien bagi pengguna multitasking.

Lebih dari sekadar mencari, Comet mampu menyajikan ringkasan hasil pencarian secara otomatis, membebaskan pengguna dari keharusan membuka banyak situs satu per satu. Browser ini bahkan dapat membantu proses riset mendalam dan mendampingi pengguna saat berbelanja online.

Menariknya, versi Android Comet juga memiliki fitur pemblokir iklan bawaan, sebuah fasilitas yang belum tersedia pada versi desktop, menjadikan pengalaman mobile ini lebih nyaman dan unggul dari sisi kenyamanan.

Perplexity berencana terus mengembangkan browser ini dengan menambahkan pengelola kata sandi dan meningkatkan kemampuan agen AI untuk bertindak di dalam situs web sesuai perintah pengguna.


Strategi Perplexity dan Tantangan Keamanan Comet

Perplexity Comet Rilis di Android, Tawarkan Beli Google Chrome USD 34,5 M
techcrunch

Langkah Perplexity merilis Comet di Android dinilai sebagai strategi krusial di tengah persaingan ketat pengembangan browser berbasis AI. Saat perusahaan teknologi lain, seperti OpenAI, masih memprioritaskan pengalaman desktop, Perplexity secara cerdas menyasar basis pengguna smartphone Android basis pengguna terbesar di dunia.

Strategi ini diperkuat dengan kerja sama yang telah terjalin dengan Motorola sejak awal 2025,. Menunjukkan ambisi Perplexity agar teknologi AI-nya tertanam langsung pada perangkat yang digunakan sehari-hari. Perplexity ingin mengubah fungsi browser dari sekadar alat pembuka situs web menjadi asisten digital yang berperan aktif.

Selain peluncuran di Android, Perplexity juga menghebohkan industri dengan mengungkapkan keinginan untuk membeli Google Chrome. Perusahaan startup ini bahkan menyiapkan tawaran fantastis sebesar USD 34,5 miliar (setara Rp 560 triliun). Mereka juga telah mengamankan pendanaan besar untuk transaksi tersebut.

Kepala bisnis Perplexity, Dmitry Shevelenko, menegaskan keseriusan ini dengan janji akan menginvestasikan lebih dari USD 1 miliar ke Chrome dan Chromium jika kesepakatan tersebut berhasil. Namun, hingga berita ini rilis, Google masih bungkam terkait tawaran tersebut, mempertahankan Chrome sebagai aset digital andalannya.

Sementara Perplexity terus berinovasi, tantangan keamanan tetap menjadi perhatian utama. Memberikan akses luas kepada agen AI untuk bertindak di internet memang menawarkan kemudahan, tetapi juga menimbulkan risiko privasi dan keamanan data baru.

Perplexity mengklaim telah merancang ulang sistem keamanannya sejak tahap awal. Namun perusahaan juga memiliki tantangan berat untuk memastikan bahwa kecerdasan agen AI yang terus berkembang ini tetap selaras dengan perlindungan dan keamanan data pengguna.


Efisiensi Pengguna dan Masa Depan Browser AI

Perplexity Comet gantikan Google Chrome
Perplexity

Fitur-fitur inovatif pada Comet, seperti kemampuan AI untuk menanggapi pertanyaan tentang semua tab yang terbuka—misalnya, “Tab mana yang berisi resep tadi?”—menawarkan solusi nyata bagi pengguna multitasking yang terbiasa membuka banyak tab sekaligus.

Kemampuan AI yang dapat melakukan riset dan membantu proses belanja membuat aktivitas browsing di layar kecil menjadi jauh lebih efisien. Dengan adanya fitur blokir iklan bawaan, pengalaman menjelajah menjadi lebih nyaman dan minim gangguan.

Bagi banyak pengguna, Comet bukan hanya sekadar browser baru, melainkan alternatif menarik yang mendobrak sifat monoton browser tradisional.

Kehadirannya di Android memberikan gambaran nyata tentang arah perkembangan browser berbasis AI di masa depan. Sementara versi iOS masih dalam pengembangan, peluncuran Comet di Android sudah menjadi langkah maju Perplexity dalam mewujudkan visi tersebut.

Baca Juga: