Berita FilmHypeMovieViral

Telah Ditonton Lebih dari 9 Juta Kali, Berikut Isi Film Dirty Vote

Film Dirty Vote hingga artikel ini ditulis telah ditonton hingga 9 juta kali secara keseluruhan. Berikut isi dari film tersebut.

Di tengah masa tenang Pemilu 2024, sebuah film dokumenter yang berjudul Dirty Vote dirilis di akun Youtube PSHK (Pusat Studi Hukum dan Kebijakan) Indonesia pada hari Minggu (11/2/2024).

Sampai pukul 14.33 WIB Senin (12/2/2024), video tersebut sudah dilihat sebanyak 3,6 juta kali di chanel PSHK Indonesia, 4,5 juta kali di chanel resmi Dirty Vote, dan 1,3 juta kali di chanel milik Refly Harun, sehingga total views lebih dari 9 juta kali.

Film dokumenter yang berdurasi 1 jam 57 menit ini cukup mengejutkan karena membongkar sistem kecurangan yang mungkin terjadi pada Pemilu 2024.

1. Melibatkan Tiga Ahli Hukum

Film Dirty Vote
PSHK Indonesia

Film Dirty Vote menampilkan tiga ahli hukum tata negara, yaitu Zainal Arifin Mochtar dari Universitas Gadjah Mada, Bivitri Susanti dari Universitas Indonesia, dan Feri Amsari dari Universitas Andalas.

Dalam film ini, mereka mengungkapkan berbagai bentuk kekuasaan yang digunakan untuk memenangkan Pemilu 2024, meskipun melanggar prinsip demokrasi.

Dalam pengantar film, Zainal Arifin berharap bahwa analisis yang disampaikan oleh ketiga pakar ini dapat menjadi dasar untuk mengambil tindakan hukuman.

“Tolong jadikan film ini sebagai landasan untuk Anda melakukan penghukuman,” kata Zainal.

Sementara itu, Bivitri menjelaskan bahwa film ini mengungkapkan dugaan kecurangan yang luar biasa dalam proses Pemilu 2024.

“Banyak orang yang akan makin paham bahwa memang telah terjadi kecurangan yang luar biasa, sehingga pemilu ini tidak bisa dianggap baik-baik saja,” ujar Bivitri. 

2. Mengambil Momentum Pemilu

Dandhy
Sukabumi Update

Dirty Vote merupakan film keempat yang disutradarai oleh Dandhy yang memanfaatkan momen pemilu. Pada tahun 2014, Dandhy meluncurkan film Ketujuh melalui rumah produksi WatchDoc, yang menampilkan Jokowi sebagai sosok yang dielu-elukan sebagai harapan baru.

Pada tahun 2017, Dandhy juga menyutradarai film Jakarta Unfair menjelang Pilkada DKI Jakarta.

Dua tahun kemudian, film Sexy Killers sukses menarik 20 juta penonton saat masa tenang Pemilu 2019. Film ini mengungkap jaringan oligarki yang terdapat pada kedua pasangan calon saat itu, yaitu Joko Widodo-Maruf Amin dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

3. Isi Film Dirty Vote

Film Dirty Vote
PSHK Indonesia

Selama hampir dua jam, tiga ahli hukum tata negara Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari, memberikan paparan yang jelas tentang berbagai bentuk kecurangan yang ditemukan dalam Pemilu 2024.

Film ini mengungkap bagaimana berbagai cara kekuasaan digunakan untuk memenangkan pemilu dan merusak sistem demokrasi. Dalam film ini, dijelaskan dengan analisis hukum tata negara mengenai kecurangan dalam pemilihan umum.

Dirty Vote juga mengkritik penggunaan kekuasaan yang kuat, yang dengan terang-terangan digunakan di depan publik untuk menjaga status quo.

Mereka membahas berbagai hal, mulai dari pernyataan yang berbeda-beda dari Presiden Jokowi mengenai keterlibatan anak-anaknya dalam dunia politik, ketidaknetralan para pejabat publik, potensi kecurangan yang terjadi di tingkat kepala desa, pengaturan anggaran dan penyaluran bansos, penggunaan fasilitas publik, hingga pelanggaran etik yang terjadi di berbagai lembaga negara.

“Semua rencana ini tidak di desain dalam semalam, juga tidak didesain sendirian. Sebagian besar rencana kecurangan yang terstruktur sistematis dan masif untuk mengakali Pemilu itu sebenarnya disusun bersama. Mereka adalah kekuatan yang selama 10 tahun terakhir berkuasa bersama,” kata Feri Amsari

“Persaingan politik dan perebutan kekuasaan desain kecurangan yang sudah disusun bareng-bareng ini akhirnya jatuh ke tangan satu pihak. Yakni pihak yang sedang memegang kunci kekuasaan, dimana dia dapat menggerakkan aparatur dan anggaran,” tutur Zainal Arifin Mochtar.

“Tapi sebenarnya ini bukan rencana atau desain yang hebat-hebat amat. Skenario seperti ini dilakukan oleh rezim-rezim sebelumnya di banyak negara dan sepanjang sejarah. Karena itu untuk menyusun dan menjalankan skenario kotor seperti ini tak perlu kepintaran atau kecerdasan, yang diperlukan cuma 2, mental culas dan tahan malu,” tutup Bivitri Susanti.

4. Lembaga dan Organisasi yang Terlibat dalam Pembuatan Film Dirty Vote

Film Dirty Vote
PSHK Indonesia

Pada akhir film dokumenter Dirty Vote, terdapat keterangan orang-orang, lembaga, dan organisasi telah terlibat dalam kolaborasi pembuatan film ini.

Di antara mereka adalah Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Bangsa Mahardika, Ekspedisi Indonesia Baru, Ekuatorial, Fraksi Rakyat Indonesia, Greenpeace Indonesia, Indonesia Corruption Watch, Jatam, Jeda Untuk Iklim, KBR, LBH Pers, Lokataru, Perludem, Salam 4 Jari, Satya Bumi, Themis Indonesia, Walhi, Yayasan Dewi Keadilan, Yayasan Kurawal, dan YLBHI.

Trending media sosial
Twitter

Banyak tokoh publik juga memberikan komentar mengenai film Dirty Vote. Mayoritas dari mereka mengapresiasi kehadiran film dokumenter ini, tetapi ada juga yang menganggapnya hanya untuk merusak reputasi salah satu pasangan calon.

Karena film ini sedang menjadi tren, banyak netizen yang belum menonton menjadi semakin penasaran dan tertarik untuk segera menontonnya. Buat kamu yang mau nonton film dokumenter ini, kamu bisa klik link berikut.

Baca Juga:

Related Posts

Leave Comment