Game PC & Console

Review Mixtape: Pengalaman Narrative Emosional dengan Visual Stylish!

Mixtape bukan game yang fokus bikin kamu menang, tapi game yang fokus bikin kamu mengingat masa muda yang suatu hari nanti gak akan bisa diulang lagi.

Mixtape
Komentar

Apakah game ini benar-benar sebagus yang dibicarakan orang? Atau justru terlalu overrated? Berikut adalah review Mixtape lengkapnya.

Industri video game sekarang dipenuhi banyak game besar dengan map luas, combat rumit, dan puluhan jam grinding. Namun di tengah ramainya game seperti itu, kadang muncul satu game kecil yang justru terasa lebih membekas karena emosinya. Mixtape adalah salah satu game tersebut.

Game buatan Beethoven & Dinosaur bersama Annapurna Interactive ini bukan tipe game yang fokus pada aksi bombastis atau gameplay kompleks. Sebaliknya, Mixtape lebih memilih membawa pemain masuk ke perjalanan emosional tentang masa muda, persahabatan, dan rasa takut ketika hidup mulai berubah.

Dari awal diperlihatkan, Mixtape langsung menarik perhatian banyak Gamer karena tampil berbeda. Atmosfernya terasa seperti film coming-of-age era 90-an yang dipadukan dengan musik indie, visual penuh warna, dan cerita yang sangat personal.

Namun di sisi lain, game ini juga memunculkan cukup banyak perdebatan. Ada yang menganggap Mixtape sebagai salah satu pengalaman narrative terbaik tahun ini, sementara ada juga yang merasa game ini terlalu “film” dan minim gameplay.

Selain itu, game ini juga memiliki unsur LGBTQ dalam ceritanya. Hal tersebut memang perlu diketahui oleh audience Indonesia sejak awal, terutama bagi mereka yang memiliki preferensi atau prinsip tertentu dalam memilih hiburan.

Lalu sebenarnya seperti apa Mixtape? Apakah game ini benar-benar sebagus yang dibicarakan orang? Atau justru terlalu overrated? Berikut review lengkapnya.


Review Mixtape

Game Mixtape
Game Mixtape

Mixtape pada dasarnya adalah game narrative adventure yang berfokus pada cerita dan pengalaman emosional.

Ceritanya mengikuti tiga sahabat remaja yang menghabiskan malam terakhir mereka bersama sebelum hidup membawa mereka ke jalan masing-masing. Premisnya memang sederhana, namun justru di situlah kekuatan utama game ini.

Mixtape tidak mencoba menjadi game penuh plot twist besar atau cerita dunia yang kompleks. Game ini hanya ingin membawa pemain merasakan bagaimana rasanya menjadi remaja yang takut kehilangan masa mudanya.

Sepanjang permainan, pemain akan diajak melakukan berbagai aktivitas khas anak muda seperti naik mobil sambil mendengarkan musik, pesta kecil, skateboard, kabur dari masalah, hingga sekadar ngobrol santai di malam hari.

Semua momen tersebut dikemas seperti potongan kenangan yang disusun menjadi satu mixtape nostalgia. Konsep itu terasa sangat unik karena Mixtape tidak memaksa pemain untuk fokus pada tujuan besar. Justru game ini ingin pemain menikmati momen kecil yang sering kali terasa paling berharga dalam hidup.

Atmosfer yang dibangun juga sangat kuat. Banyak adegan di game ini terasa seperti video klip musik atau film indie remaja. Bahkan transisi antar adegannya dibuat sangat artistik sehingga pemain seperti sedang melihat memori masa muda yang terus berpindah-pindah.

Mixtape juga punya identitas yang sangat kuat dari sisi presentasi. Saat banyak game modern berlomba membuat visual realistis, Mixtape justru memilih gaya stylized penuh warna dan efek dreamy.

Hasilnya, game ini punya kesan yang langsung mudah dikenali. Namun sejak awal memang terlihat jelas bahwa Mixtape bukan game untuk semua orang. Ini adalah game yang sangat bergantung pada mood dan selera pemain.

Kalau pemain mencari aksi nonstop atau gameplay menantang, kemungkinan besar mereka akan cepat bosan. Tapi bagi pemain yang suka game cinematic dan penuh emosi, Mixtape bisa menjadi pengalaman yang sangat memorable.

Hal lain yang perlu dibahas adalah adanya unsur LGBTQ di dalam game ini. Mixtape memang menghadirkan beberapa dinamika hubungan dan eksplorasi identitas antar karakter yang mengarah pada tema tersebut.

Walaupun tidak menjadi fokus utama sepanjang permainan, unsur tersebut tetap cukup terasa di beberapa bagian cerita. Karena itu, penting bagi audience Indonesia untuk mengetahui hal ini sebelum memainkan game-nya.

Sebagian pemain mungkin menganggapnya sebagai bagian dari cerita coming-of-age modern, namun sebagian lain bisa saja merasa tidak nyaman dengan tema tersebut karena alasan budaya atau agama.

Jadi pada akhirnya, semua kembali ke preferensi masing-masing pemain.

Lanjut baca

Pubgm Ford

Kolaborasi PUBG MOBILE x Ford menghadirkan kombinasi antara performa, kebebasan, dan gaya khas Ford ke dalam pengalaman battle royale yang lebih autentik.

Baca selengkapnya