Bermimpi membangun sebuah startup tapi ga bisa ngoding. Mungkin, beberapa diantara kita mengalami nasib seperti itu. Ingin membuat perusahaan teknologi, tapi ga paham hal – hal teknis.
Memang, orang yang mengerti hal teknis (Technical Founder) akan lebih mudah untuk membangun sebuah startup. Karena dia paham bagaimana bisa menciptakan sebuah produk. Tapi, kalau founder tersebut tidak mengerti hal teknis bagaimana?
Namun, sebelum jauh – jauh membahasa hal tersebut. Ternyata, ada banyak pendiri startup yang juga ga bisa ngoding loh.
Kalian bisa membacanya pada artikel “Mau Bikin Startup Tapi Ga Jago Coding? 5 Non Technical Founder Ini Telah Membuktikannya”. Nah, kami akan membahas bagaimana memulai startup sebagai Non Technical Founder
Kamu Seorang Non Technical Founder? Lakukan 7 Langkah Ini Untuk Membangun Startup
1. Lupakan Sejenak Tentang Coding, Daftar Semua Keahlianmu Sebagai Non Technical Founder
Mendirikan startup bukan hanya tentang membuat platform aplikasi ataupun website. Namun, lebih jauh dari itu. Banyak hal yang bisa seorang founder lakukan sebelum melakukan coding seperti membuat mockup, interview ke customer dan marketing.
Inilah skill yang harus dimiliki oleh Non Technical Founder untuk membangun Startup
- Design mockups
- Customer interviews
- UX testing and design
- Surveying customers
- A/B testing landing pages
- Ad writing
- Conversion optimization
- Writing product descriptions
- Web copywriting
- Blog post writing
- Guest blogging/guest posting
- Social Media Marketing
- PR
- Sales – khususnya pre-sales
- Marketing
- Team building / Recruiting / HR
- Accounting
- Legal issues
- Fundraising
- Networking
2. Carilah Potential Customer Anda Terlebih Dahulu
Seorang technology founder pun tidak boleh menulis 1 baris kode pun tanpa mengetahui kebutuhan pelanggan terlebih dahulu. Jadi, melakukan riset dengan mencari potential customer dari startup anda bisa dilakukan terlebih dahulu.
Hal yang perlu diperhatikan saat melakukan riset potential customer :
- Apakah solusi yang anda tawarkan menyelesaikan problem nyata dari customer?
- Apakah customer mau membayar ide anda? Lakukan sistem pre-sell untuk membuktikannya, kebanyakan startup gagal karena banyak customer tidak mau membayar produknya.
3. Validasi Ide Startup Anda
Setelah mengetahui potential customer anda, kini anda perlu memvalidasi ide bisnis anda. Untuk memvalidasi ide startup biasanya cukup hanya dengan membuat landing page dengan mudah tanpa harus ngoding. Kamu bisa menggunakan layanan di unbounce, leadpages atau wix.com.
Hal yang perlu diperhatikan saat melakukan validasi :
- Ceritakan mengenai ide startup kalian kepada orang lain. Kadang beberapa founder startup menganggap bahwa ide itu harus dirahasiakan. Tapi, hal itu merupakan keputusan yang salah. Pergi keluar, temui orang dan share ide kamu. Hargai setiap feedback yang kamu terima.
- Dengarkan apa yang customer katakan. Ingat! ide kamu harus datang dari customer, bukan dari anda.
- Temukan kompetitor. Setiap bisnis pasti memiliki kompetitor entah itu yang menggunakan teknologi atau konvensional. Beruntung jika kompetitor anda masih menggunakan cara konvensional. Namun, jika sudah menggunakan teknologi maka anda harus berpikir lebih keras untuk mencari hal berbeda dari kompetitor anda. Intinya, anda harus membuat versi yang lebih baik dari kompetitor. Menemukan kompetitor akan memperkaya pengetahuan anda mengenai bidang yang startup kamu tekuni.
4. Membuat Mockup
Setelah kamu yakin dengan ide startup yang telah divalidasi. Kini saatnya kamu bisa berbicara mengenai produk. Namun, kamu tidak perlu ngoding disini. Cukup siapkan kertas dan pensil, lalu sketsakan produkmu dengan berbekal kertas dan pensilnya.
Ini biasanya disebut dengan Wirefram. Nah, untuk mempercantik tampilan kamu bisa mendesainnya menggunakan tools desain seperti Adobe Illustraror , Adobe XD, Marvel app atau lainnya.
Ini akan berguna jika kamu bertemu dengan investor atau calon co-founder kamu.
5. Pre-Sell
Pre-sell merupakan sebuah pembuktian bahwa produk kamu nantinya akan diminati oleh customer kamu. Customer kamu akan membayar produk yang kamu rilis nantinya. Ini pun kamu tidak perlu melakukan coding.
Cukup simple saja, misal kamu cukup melakukan penjualan dengan penjualan dengan media lain. Misal kamu ingin membuat startup e-commerce jual beli sayur. Nah, kamu cukup menerima layanan tersebut melalui instagram ataupun whatsapp. Lalu, cek seberapa butuh customer menggunakan layanan kamu.
6. Mencari Technical Co-Founder
Setelah, tahap dari mencari potensial customer sampai pre-sell selesai. Itu tandanya kamu sudah diperbolehkan untuk membuat suatu produk. Nah, karena kamu tidak bisa tentang hal – hal teknis (coding).
Salah satu cara terbaik adalah mencoba mencari technical Co-Founder. Kini, kamu mencari sosok yang dapat membantu startup-mu sukses dengan kemampuan teknisnya.
Namun, perlu diketahui bahwa mencari Technical Co-Founder bukan hanya tentang ketrampilan teknis saja. Namun, kecocokan hati antara kamu dan dia sangat berpengaruh. Itu justru yang akan menentukan startup-mu kedepannya.
7. Jika Kamu Gagal Menemukan Techinical Co-Founder
Apakah jika gagal menemukan Technical Co-Founder maka kamu harus memilih mundur dan menghapus mimpi – mimpi untuk membangun startup sukses? Ternyata jawabannya tidak. Masih ada dua opsi yang bisa kamu lakukan kedepannya.
Cara Pertama : Belajar Ngoding Sendiri
Cara pertama ini, mungkin cocok buat kalian founder yang memiliki sifat sabar dan gigih. Meskipun agak susah, karena mempelajari bahasa pemograman buat orang yang tidak memiliki latar belakang di bidang IT memang susah. Butuh waktu yang tidak sedikit untuk mempelajarinya.
Meskipun begitu, cara ini terbilang cukup bagus untuk dilakukan untuk para Non Techincal Co-Founder.
Yup, dengan belajar mengenai bagaimana untuk membuat suatu platform (aplikasi atau website), kamu dapat meningkatkan ketrampilanmu sebagai seorang founder. Kamu jadi lebih paham mengenai teknologi sehingga nantinya kamu bisa mengontrol semuanya.
Cara Kedua : Menyewa Developer
Cara kedua ini mungkin cocok buat kalian founder yang sudah gak sabaran untuk merilis produknya ditambah dengan memiliki finansial yang kuat. Yup, kamu ga perlu pusing – pusing untuk belajar ngoding. Cukup dengan menyewa developer kamu bisa membuat sebuah produk.