Musik

Review Album: Ed Sheeran – = (aka Equals): Eksplorasi Sound Kebahagiaan Yang Cukup Menyedihkan

Inilah review album Ed Sheeran yang keempat, = atau Equals.

Setelah menunggu 4 tahun lamanya, akhirnya penyanyi Inggris top berambut jahe, Ed Sheeran, merilis juga album keempatnya, = atau dibaca dengan Equals. Dan kalau kamu adalah fans Sheeran, pastinya kini kamu sedang on repeat mendengarkan album ini.

Terlebih seperti kita dengar dari sejak perilisan video klip lagu jagoannya, Bad Habits’, melalui album ini, vokalis 30 tahun ini, mengusung sound yang sangat segar dan jauh dari sound Sheeran di ketiga album sebelumnya.

Spesifiknya dalam album ini, sound yang Sheeran usung jauh lebih Pop dan dance yang kekinian banget. Dan ketika mendengarnya, tak heran jika reaksi 50-50 langsung muncul. Spesifiknya lagi, ada yang suka, namun ada juga yang langsung memberikan komen pedas nan negatif

Lalu bagaimana nih? Apakah album ini memang seburuk seperti yang dikatakan? Atau masih ada sedikit enaknya? Oke deh, langsung saja simak review album Ed Sheeran, = aka Equals berikut ini.

Eksplorasi Sound Baru Yang Seharusnya Tidak Usah Dilakukan

Well, langsung saja seperti yang kamu juga sudah lihat dari judul kesimpulan review ini. Jujur semenjak mendengar ‘Bad Habits’, gue sudah shock banget. Pasalnya seorang Ed Sheeran jauh dari sound Pop-Dance / EDM yang hampir terdengar seperti sound genre dangdut ini.

Lebih shock lagi ketika mengingat sekitar 10 bulan lalu, Sheeran merilis lagu ‘Afterglow’ yang mana, sound-nya masih sound Pop mellow khas Sheeran itu. Kalau kamu fans atau sudah dengar lagu-lagu Sheeran sebelumnya pasti tahu dengan maksud gue tersebut.

Nah gue kira, ‘Afterglow’ adalah single jagoan / promosi dari album Equals ini. Ternyata lagu ini hanyalah seperti single “lepas” saja. Lagu ini bahkan gak disertakan dalam album ini.

Jadi ya pada akhirnya adalah ‘Bad Habbits’ yang menjadi jagoan, dan sekali lagi melalui lagu ini terdengar sekali kalau Sheeran ingin eksplorasi terhadap sound Pop Dance kekinian. Dan yap, keputusan eksplorasi yang Sheeran lakukan ini salah besar.

Membuatnya Sama Saja Dengan Musisi Lain Kebanyakan

Tapi walau melalui review album Ed Sheeran, Equals ini gue telah menyimpulkan seperti demikian, gue pada saat yang sama turut memberikan applause ke Sheeran. Pasalnya ia sudah berusaha banget dalam melakukan transisi genre super mainstream-nya ini.

Gak gampang loh guys. Tapi ya itu tadi, pada akhirnya transisi ini tidak terdengar cocok sama sekali dan juga membuat Sheeran sama saja dengan musisi pop lain kebanyakan saat ini. Contohnya seperti Shawn Mendes.

Tapi ya gue ngerti mengapa transisi genre ini ia lakukan. Tentunya Sheeran ingin merebut pasar mainstream yang lebih luas. Dan apabila ia sukses, tentunya isi dompetnya pun kian menebal.

Ya tapi walau cuan-nya kian banyak, itu tadi guys. Ketidakcocokan sound-nya, membuat semuanya menjadi sangat mengecewakan. Juga, membuat citranya sebagai musisi saat ini yang jauh lebih beda dan lebih keren, menjadi tercoreng banget.

Diselamatkan Vokal dan Beberapa Lagu Bernada Awal

Terlepas kekecewaan tersebut, untungnya masih ada beberapa faktor penyelamat yang bisa gue sebutkan dalam review album Ed Sheeran, Equals ini.

Pertama tentunya vokal Sheeran yang tidak usah kita ragukan lagi. Ya kita bisa dengar dari lagu ‘Bad Habits’ bukan? Walau mengusung nada se-pop itu, vokal Sheeran masih terdengar powerful dengan permainan dinamikanya yang masih apik.

Transisi dari nada rendah ke tinggi dan juga ke falsetto masih terdengar mulus seperti yang kita dengar di vokal-vokalnya terdahulu. Mau genre pop dance atau genre slow pop yang untungnya masih ada di album ini, sama-sama terdengar nyaman nan mendayu di kedua telinga.

Kedua adalah produksinya. Dalam album ini, Sheeran kembali ditangani oleh produser album Divide (2017), Steve Mac. Dan produsernya semenjak album keduanya, Multiply, John McDaid. Nah keduanya dibantu dengan produser lainnya, masih sukses menampilkan produksi sound yang jreng banget.

Pokoknya dari track pertamanya, ‘Tides’ hingga track akhir (lagu ke-14), ‘Be Right Now’, produksi sound-nya benar-benar terdengar garing dan sekali lagi menggelegar sound system yang kita miliki.

Dan yang ketiga, terlepas mengusung sound Pop-Dance itu, untungnya terdapat beberapa lagu seperti salah satunya, ‘The Joker and the Queen’, mengusung sound pop mellow indie khas Sheeran itu. Dengan kata lain, Sheeran gak lupa dengan sound yang sukses melambungkan namanya tersebut.

Lirik Dedikasi Terhadap Istri Yang Sangat Cheesy

Sayangnya terlepas terdapat beberapa sound-nya yang sangat terdengar klasik Sheeran, lirik-lirik lagunya justru terasa sangat cheesy.

Memang sih album Equals ini didedikasikan untuk istri tercintanya, Cherry Seaborn dan putri semata wayang mereka sejauh ini, Lyra. Jadi gak heran juga sih kalau dari awal sampai akhir, semua liriknya merupakan rasa cintanya yang sangat besar terhadap dua terkasihnya ini.

Tapi ya gak memungkiri, ke-cheesy an nya membuat kita agak bagaimana gitu he..he. Dan sebenarnya lirik cheesy Sheeran sudah kita dengar semenjak lagu ‘Perfect’ (2017). Dan ke-cheesy an ini “disempurnakan” melalui sebagian besar lagu-lagu di album Equals ini.

Namun ya wajar juga sih guys. Keluarga Sheeran ini juga masih hangat-hangatnya.

Ada Lagu Mengharukannya Juga

Akan tetapi gak semua juga lagu-lagu dalam album ini “pelangi” dan bahagia semua. Alias ada juga lagu-lagunya yang berlirik reflektif nan mengharukannya.

Seperti dalam lagu pembuka albumnya, “Tides”, Sheeran justru mengatakan keinginannya untuk mulai merubah gaya hidupnya yang sangat liar yang ia lakukan sebelum menikah dan punya anak seperti sekarang.

I still love getting out of my mind, I should it cut down
I still know people I don’t like and I should cut them out
I feel embarrassed ‘bout the things that I did in my youth
‘Cause now I have a child, I know one day that she’ll go through it

Lalu seperti dalam salah satu lagu favorit gue dalam album ini, ‘Visiting Hours’, ia melakukan tribute yang sangat menyentuh nan nangis bombay terhadap teman sekaligus mentor Sheeran, Michael Gudinski.

Bagi kamu yang mungkin merasa pernah mendengar nama ini, wajar banget. Michael Gudinski adalah promotor dan eksekutif musik Australia legendaris. Gudinski lah yang bertanggung jawab atas karir solois Autralia wanita top, Kylie Minogue.

Dan melalui lagu ini, sekali lagi ketahuan banget kalau Sheeran dan Gudinski sangat dekat hubungannya. Tonal lirik dan musiknya hampir senada dengan ‘Supermarket Flowers’ yang ada dalam album ÷ (Divide).

I wish that Heaven had visiting hours
So I could just swing by and ask your advice
What would you do in my situation?
I hadn’t a clue how I’d even raise them
What would you do? ‘Cause you always do what’s right

Harus Kembali Seperti Semula di Album Kelimanya

Pada akhirnya yang bisa kita simpulkan melalui review album Ed Sheeran Equals ini, adalah album ini untuk standar seorang Ed Sheeran, adalah album “terburuknya”.

Memang sekali lagi kita paham. Melalui Equals ini, Sheeran ingin membagikan kebahagiaannya yang masih hangat-hangatnya dengan keluarga kecil barunya ini. Dan juga kita paham kalau Sheeran ingin mengeksplorasi sound pop-dance kekinian.

Tapi ya sayangnya, transisi dan eksplorasi baru ini tidak cocok dengan kepribadian (image) Sheeran. Ia memanglah selalu cocok dengan sound pop indie atau semi adult contemporary-nya itu. Namun pada saat yang sama, gue respek dan applaud banget usaha keras dari Sheeran ini.

Untung saja selain ada lagu-lagu seperti ‘The Joker and The Queen’ dan ‘Visiting Hours’ vokal Sheeran masih tokcer. Sehingga, keseluruhan album Equals ini masih layak untuk didengar. Semoga saja pada album-album berikutnya, setidaknya sound-nya bisa balik lagi seperti era album Divide dulu.

Semoga review album Ed Sheeran Equals ini, bermanfaat ya guys!

Pastikan untuk selalu kunjungi Dafunda atau instal aplikasinya di playstore agar kalian tidak ketinggalan update terbaru dari kami seputar dunia Game, Movie, Anime dan Pop Culture.

What's your reaction?

Related Posts

Leave Comment