Pertarungan dalam Culling Game pada Jujutsu Kaisen tidak hanya melibatkan pertarungan antara penyihir jujutsu dan makhluk kutukan. Di balik peristiwa tersebut, terdapat konflik yang lebih luas yang melibatkan pemerintah serta militer dari berbagai negara. Kenjaku, sebagai pengendali utama Culling Game, secara sengaja mengundang keterlibatan kekuatan eksternal. Artikel ini membahas apakah militer terlibat di Culling Game Jujutsu Kaisen?
Jujutsu Kaisen adalah sebuah serial manga dan anime yang telah mencuri perhatian banyak penggemar di seluruh dunia dengan cerita gelap dan aksi yang memukau. Cerita ini berpusat pada Yuji Itadori, seorang siswa SMA yang tanpa sengaja terjerat dalam dunia kutukan dan makhluk supranatural setelah menelan jari salah satu makhluk terkutuk yang kuat.
Apakah Militer Terlibat di Culling Game Jujutsu Kaisen?
1. Pasukan Militer dari Berbagai Negara Turut Serta Dalam Culling Game

Sebelum dimulainya sebuah permainan, Kenjaku melakukan kunjungan ke beberapa negara maju dengan tujuan memperkenalkan potensi energi kutukan kepada pemerintah mereka. Ia menyampaikan bahwa para penyihir jujutsu sebagian besar berkumpul di Jepang dan memiliki kemampuan yang belum pernah diketahui sebelumnya oleh dunia.
Sebuah pertemuan penting diadakan di Gedung Putih, Amerika Serikat, di mana Kenjaku dan Uraume bertemu langsung dengan pejabat tinggi, termasuk Presiden serta tokoh militer seperti Letnan Jenderal Garry K. Johnson.
Dalam pertemuan tersebut, Kenjaku menjelaskan konsep energi kutukan dan memperlihatkan keberadaan makhluk kutukan melalui penggunaan kacamata khusus yang memungkinkan para pejabat melihat sosok tersebut.
Selain itu, ia juga mempresentasikan rekaman kemampuan para penyihir yang telah didokumentasikan oleh Kokichi Muta. Informasi ini membuat para pejabat Amerika mempertimbangkan kemampuan para penyihir sebagai sumber energi potensial.
2. Kenjaku Menyebarkan Ide Bahwa Penyihir Jujutsu Dapat Dijadikan Sumber Energi

Penyihir di Jepang merupakan kelompok minoritas dengan jumlah yang relatif sedikit, sehingga potensi terjadinya insiden seperti Culling Game dianggap dapat diminimalisir. Beberapa petinggi militer, termasuk Cyrus Veil, melihat situasi ini sebagai peluang strategis penting.
Jika penyihir berhasil ditangkap dalam keadaan hidup, energi kutukan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan negara. Hal ini mendorong pembahasan serius mengenai pelaksanaan operasi militer terkait.
Menurut Letnan Jenderal Garry K. Johnson, satu kompi tentara dianggap cukup untuk menangani penculikan penyihir di Jepang. Namun, Kenjaku mengusulkan penggelaran satu batalion lengkap yang terdiri dari sekitar 800 prajurit guna memastikan kelancaran pelaksanaan misi.
Selain memberikan informasi, Kenjaku juga berperan dalam mendorong keterlibatan militer dalam ritual tersebut. Salah satu individu yang ditangkap adalah Remi, seorang wanita yang sebelumnya mengkhianati Megumi namun kemudian dimaafkan.
3. Kenjaku Memanfaatkan Militer Sebagai “Sumber Energi Kutukan”

Alasan Kenjaku mengundang militer dari berbagai negara bukan untuk membantu menangkap penyihir, melainkan sebagai bagian dari strategi yang lebih kompleks. Klaim mengenai penggunaan penyihir sebagai sumber energi adalah tipuan yang bertujuan agar pemerintah asing mengerahkan pasukan mereka ke Jepang.
Tujuan utama Kenjaku adalah mengumpulkan energi kutukan dalam jumlah besar guna melanjutkan sebuah ritual besar yang terkait dengan Master Tengen. Energi yang diperoleh dari peserta Culling Game di beberapa koloni dianggap belum mencukupi, sehingga diperlukan metode lain untuk menambah pasokan energi tersebut. Dalam hal ini, kehadiran pasukan asing menjadi elemen penting dalam strategi Kenjaku.
Ketika individu mengalami ketakutan ekstrem atau kematian tragis di dalam koloni, energi kutukan yang kuat akan dilepaskan. Kenjaku memanfaatkan situasi ini dengan memancing ribuan prajurit untuk memasuki koloni Culling Game, yang kemudian menghadapi pembantaian oleh kutukan atau penyihir.
Kematian besar-besaran tersebut menghasilkan energi kutukan yang dibutuhkan untuk ritual Kenjaku. Dengan demikian, pasukan militer internasional sebenarnya berperan sebagai alat dalam rencana Kenjaku, yang mengira mereka sedang menjalankan tugas untuk menangkap penyihir dan meneliti energi kutukan, padahal sebenarnya mereka digunakan untuk menyediakan energi tambahan bagi ritual Culling Game.




