Penelitian medis terbaru membuktikan bahwa perubahan aktivitas otak menonton video pendek yang disukai hingga selesai berkaitan erat dengan terjadinya penurunan kinerja (deaktivasi) pada pusat kendali fokus dan pengambilan keputusan.
Ketika seseorang menemukan konten hiburan yang pas di linimasa gawai, otak secara otomatis mengalihkan mode berpikir penuh beban menjadi mode pemrosesan otomatis (flow state) yang hanya membutuhkan sedikit usaha kognitif.
Bagi kamu yang hobi memutar tayangan video singkat di berbagai aplikasi media sosial setiap hari, durasi waktu bertukar konten terasa meluncur sangat cepat. Kita sering kali bermaksud hanya ingin menonton satu video pendek selama beberapa detik, namun tanpa disadari jempol terus melakukan scrolling hingga berjam-jam.
Fenomena psikologis ini bukanlah bentuk kerusakan fungsi saraf secara mendadak, melainkan bentuk penyesuaian alami sistem saraf pusat saat menikmati hiburan yang memikat. Yuk, kita bedah hasil pemindaian fMRI dari riset ilmiah neurosains terbaru ini!
Aktivitas Otak Menonton Video Pendek Menurut Riset

1. Otak Pengatur Fokus Mengalami Deaktivasi
Studi neurosains yang dilakukan oleh para peneliti dari Zhejiang University, China (dipublikasikan dalam jurnal ilmiah NeuroImage pada awal tahun 2026) mengungkapkan dinamika neurokimiawi pembeli sinyal di dalam otak saat menyaksikan konten digital.
Menggunakan teknologi pemindaian functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) dan proton magnetic resonance spectroscopy (¹H-MRS) pada 56 responden dewasa muda, peneliti menemukan penurunan aktivitas yang sangat signifikan pada dua wilayah otak utama:
- Dorsal Anterior Cingulate Cortex (dACC)
- Bagian otak yang bertugas memantau konflik, mengevaluasi beban kerja mental, serta mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan.
- Dorsolateral Prefrontal Cortex (dlPFC)
- Bagian otak yang berperan sebagai kemudi kendali kontrol kognitif tingkat tinggi dan konsentrasi sadar.
Ketika peserta menyaksikan video pendek yang disukai hingga selesai, aktivitas pada area dACC dan dlPFC menurun drastis (deaktivasi) dibandingkan kondisi normal. Sebaliknya, saat peserta menonton video yang tidak disukai (dan memilih untuk melompatinya/swipe), area pengontrol fokus ini tetap bekerja aktif mengevaluasi konten.
2. Peran Senyawa Kimia Glutamat dan Kondisi Flow State
Mengapa otak menurunkan kontrol fungsionalnya saat melihat konten yang disukai? Peneliti menemukan bahwa kondisi ini berkaitan dengan kadar neutrotransmiter glutamat di dalam area dACC.
Peserta yang memiliki kadar glutamat lebih tinggi cenderung mengalami penurunan aktivitas dACC yang lebih kecil. Peneliti menjelaskan bahwa pola pergeseran koordinasi antara dACC dan dlPFC menciptakan fenomena psikologis yang disebut sebagai Kondisi Flow (Terserap Sempurna).
Mirip seperti saat seseorang sangat menikmati alur cerita film bioskop yang bagus atau hanyut dalam gim favorit, otak sengaja mengistirahatkan fungsi pemantauan kognitif yang berat. Akibatnya, kita bisa menikmati suguhan hiburan visual dengan rasa rileks tanpa perlu berpikir keras.
3. Apakah Video Pendek Merusak Konsentrasi Otak?
Meskipun studi ini menunjukkan penurunan aktivitas kontrol fokus saat menonton, para ahli menegaskan bahwa temuan ini tidak membuktikan bahwa video pendek merusak otak atau menurunkan kemampuan konsentrasi dalam jangka panjang.
Sistem kecerdasan buatan (AI) merekap beberapa fakta kunci batas batasan riset ini:
- Respons Sesaat (Bukan Permanen)
- Penurunan aktivitas otak ini bersifat sementara selama sesi menonton berlangsung, bukan sinyal kerusakan jaringan saraf.
- Kontrol Kognitif Tetap Bekerja
- Bukti bahwa peserta tetap aktif memilah dan melewati (skip) video yang membosankan menunjukkan bahwa fungsi evaluasi otak sebenarnya tetap sigap berpatroli.
- Gambaran Respons Alami
- Penelitian ini lebih tepat dipahami sebagai peta panduan mengenai bagaimana respons biologis otak saat merasa senang, bukan sebagai diagnosis kecanduan digital.
FAQ
Mengapa kita sering lupa waktu saat menyaksikan video pendek di HP?
Karena area otak dACC dan dlPFC mengalami penurunan aktivitas kognitif (masuk ke mode flow), sehingga kesadaran melacak waktu dan beban kerja evaluasi otak menjadi jauh lebih rendah.
Apakah kadar senyawa GABA memengaruhi tingkat konsentrasi saat menonton?
Berdasarkan hasil pengujian ¹H-MRS dalam studi NeuroImage 2026, kadar GABA tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perubahan aktivitas di area dACC maupun dlPFC.
Bagaimana cara mengembalikan fokus kognitif otak setelah terlalu lama scrolling?
Kamu bisa melakukan jeda (digital detox) sejenak, mengalihkan pandangan ke objek nyata di luar ruangan, atau melakukan aktivitas fisik ringan untuk mengaktifkan kembali area prefrontal cortex.
Kesimpulannya, menikmati video pendek pilihan di waktu senggang adalah hal yang wajar secara biologis. Penurunan aktivitas kontrol otak adalah cara tubuh menikmati hiburan tanpa beban, asalkan kamu tetap bijak membatasi durasi pemakaian harian.
Penasaran dengan perkembangan riset neurosains, sains populer, dan trivia teknologi harian lainnya yang jarang diketahui orang?
Jangan lupa untuk terus pantau artikel terbaru kita di Dafunda Tekno ya, biar kamu gak ketinggalan pembahasan seru berikutnya! Kalau kamu sendiri, biasanya sanggup bertahan berapa jam nih kalau sudah keasyikan scrolling video pendek? Tulis di kolom komentar, yuk!


Bales ke