Movie Review Film

Review Film The Odyssey: Mahakarya Terbaru Christopher Nolan yang Super Epic & Bikin Merinding!

Biar lo ada gambaran sebelum beli tiket bioskop, yuk kita bahas detailnya lewat review film The Odyssey di bawah ini!

the odyssey matt damon
Komentar

Christopher Nolan emang sepertinya nggak tau caranya bikin film jelek. Setelah sukses ngeraup banyak piala Oscar lewat Oppenheimer (2023), sutradara jenius ini balik lagi nyapa kita di tahun 2026 dengan proyek terbarunya yang super ambisius: The Odyssey.

Diangkat dari puisi epik mitologi Yunani kuno karya Homer, film ini udah jadi obrolan hangat bahkan sejak tahap produksi. Banyak yang penasaran, gimana jadinya mitologi klasik yang umurnya ribuan tahun ini kalau diolah sama “bapak mind-bending” perfilman modern?

Nah, setelah resmi tayang, banyak kritikus dan media besar kompak ngasih pujian setinggi langit. ScreenRant sendiri nyebut film ini sebagai “Stunning Achievement” (pencapaian yang memukau). Biar lo ada gambaran sebelum beli tiket bioskop, yuk kita bahas detailnya lewat review film The Odyssey di bawah ini!

Review Film The Odyssey

Pendamping Oppenheimer yang Nggak Terduga

review film the odyssey
review film the odyssey

Kalau lo mikir The Odyssey ini cuma film perang dewa-dewa yang full CGI, lo salah besar. Beberapa kritikus justru nyebut film ini sebagai “karya pendamping” (companion piece) dari Oppenheimer. Lho, kok bisa?

Kalau Oppenheimer ngebahas soal orang yang nemuin senjata pemusnah massal buat ngakhiri perang, The Odyssey fokus ngebahas nasib dan penderitaan seorang pejuang pasca perang (Perang Troya) yang pengen pulang ke rumah.

Lewat review film The Odyssey, film ini dipuji karena berhasil ngebawa pesan anti-perang (anti-war) yang sangat deep dan relevan sama kondisi dunia modern. Nolan bener-bener berhasil ngehumanisasi (memanusiakan) karakter mitologi jadi sosok yang rapuh, relatable, tapi tetep heroic.

Panggung Sempurna Buat Akting Masterpiece Matt Damon

matt damon the odyssey
matt damon the odyssey

Kredit terbesar dari film ini jelas harus dikasih ke Matt Damon, yang berperan sebagai Odysseus sang tokoh utama. Hampir semua ulasan kompak setuju kalau ini adalah salah satu performa terbaik (bahkan mungkin performa penentu karier) dari Matt Damon.

Nolan ngasih waktu dan ruang yang luas banget buat nyeritain proses perubahan moral sang karakter. Kita bisa ngelihat jelas rasa frustrasi, trauma masa lalu, dan kerinduan seorang bapak sekaligus suami buat kumpul lagi sama keluarganya. Banyak prediksi kuat di beberapa review film The Odyssey yang nyebut kalau penampilan Matt Damon di sini udah ngegaransi minimal masuk nominasi, atau bahkan menang, Aktor Terbaik di ajang Oscar nanti.

Visual “God-Tier” yang Megah Tanpa Terasa Norak

review the odyssey
review the odyssey

Sutradara sekelas Nolan tentu nggak bakal ngorbanin kualitas visual. Perjalanan Odysseus ngelewatin berbagai rintangan, mulai dari monster-monster mitologi sampai kemarahan para dewa Olympus, divisualisasikan dengan kelas “god-tier” (tingkat dewa).

Tentu aja, Nolan tetep mempertahankan ciri khasnya: maksimalkan practical effects dan ngurangin ketergantungan pada layar hijau (CGI). Hal ini bikin dunia monster dan dewa di film ini nggak kerasa norak atau kayak video game, melainkan megah, haunting (menghantui), dan nyata banget. Nonton film ini di layar IMAX adalah sebuah kewajiban kalau lo mau ngerasain sensasi sinematik yang bikin merinding.

Kesimpulan: Mahakarya yang Melampaui Ekspektasi

the odyssey review
the odyssey review

Walaupun durasinya lumayan panjang dan alurnya pelan (slow-burn), The Odyssey ngebuktiin kalau Christopher Nolan masih berada di puncak performanya. Ini bukan cuma sekadar film blockbuster mahal musim panas, tapi bener-bener sebuah karya seni yang menyentuh hati dan ngebuat kita mikir soal takdir, keluarga, dan kemanusiaan.

Overall, review film The Odyssey sangat merekomendasikan lo buat nonton karya epik ini. Film ini sukses mendobrak batasan dan jadi salah satu adaptasi mitologi paling thoughtful (penuh pemikiran) yang pernah dibuat di Hollywood!

Nilai Akhir: 9.5 / 10


Gimana, makin nggak sabar buat nonton kan? Menurut lo, mampukah film ini ngebawa Matt Damon dan Nolan borong piala Oscar tahun depan? Coba drop pendapat atau ekspektasi lo di kolom komentar, ya!

Review Summary

Film ini sukses mendobrak batasan dan jadi salah satu adaptasi mitologi paling thoughtful (penuh pemikiran) yang pernah dibuat di Hollywood!

Criteria

95/100
Story
95/100
Direction
95/100
Acting
95/100
Cinematography
100/100
Soundtrack
95/100
Pacing
Pros
  • Penyutradaraan Tingkat Dewa: Christopher Nolan sukses membuktikan bahwa mitologi kuno bisa disajikan tanpa harus terlihat seperti video game. Skala kemegahan dunianya terasa nyata imersif dan tidak bergantung berlebihan pada CGI murahan.
  • Performa "Masterpiece" Matt Damon: Akting Damon sebagai Odysseus menjadi jangkar utama film ini. Penggambarannya yang rapuh traumatik namun tetap heroik disebut-sebut sebagai penampilan terbaik sepanjang kariernya (sangat layak masuk nominasi Oscar).
  • Tema Anti-Perang yang Relevan: Alih-alih hanya berfokus pada aksi pahlawan melawan monster. film ini secara jenius menggali dampak psikologis (PTSD) dan kerugian moral yang harus ditanggung seorang pejuang pasca-perang.
  • "Companion Piece" yang Sempurna untuk Oppenheimer: Film ini terasa seperti lanjutan spiritual dari Oppenheimer. Sama-sama mengeksplorasi tragedi kemanusiaan penyesalan dan harga dari sebuah pencapaian besar.
  • Visual dan Scoring yang Mengintimidasi: Khas Nolan. pengalaman sinematik IMAX memadukan visual pemandangan masif dan musik latar (skoring) yang membuat setiap ketegangan dan kengerian para dewa terasa merinding.
Cons
  • Pacing yang Lambat (Slow-Burn): Dengan durasi yang panjang. alur penceritaan di paruh pertama hingga pertengahan terasa cukup lambat. Penonton yang mengharapkan film aksi tanpa henti ala blockbuster musim panas mungkin akan merasa bosan.
  • Beberapa Arc Terasa Kurang Rata (Uneven): Ada beberapa transisi dari adegan drama psikologis ke pertemuan dengan makhluk mitologis yang terasa sedikit mendadak dan kurang mengalir mulus.
  • Dialog yang Terkadang Terlalu Puitis: Seperti kebiasaan di beberapa film Nolan sebelumnya. ada momen di mana dialog antar karakter terasa terlalu padat (exposition-heavy) atau menggunakan bahasa yang terlalu puitis. sehingga memaksa penonton untuk terus berpikir keras mencerna maknanya.

Follow Dafunda — everywhere

Stay updated wherever you scroll.

Lanjut baca

momen captain america terbaik di mcu

Yuk kita throwback dan ranking 5 momen Captain America terbaik di MCU yang paling epic dan bikin merinding sampai sekarang!

Baca selengkapnya