Apakah Benar Sifat Agresif Dipicu Oleh Main Video Game Sadis?

in ,
Sifat Agresif Video Game
Mortal Kombat | GameRant

Bukan rahasia umum lagi kalau video game berbau kekerasan, selalu dianggap sebagai pemicu sifat agresif bahkan sadis.

Dan pandangan tersebut memang gak salah sih. Karena seringkali kasus sifat agresif dan sadis, memang bermula dari sering menyaksikan atau memainkan game kekerasan.

Masih ingatkah kamu dengan kisah penembakan brutal yang dilakukan oleh Eric Harris dan Dylan Klebold di SMA Columbine, Colorado, AS, tahun 1999?

Yap. Aksi yang mereka lakukan faktanya dipicu dari kebiasaan mereka main video game tembak-tembakan (FPS) seperti Quake dan Doom.

Karena hal tersebut, sekali lagi gak heran hingga detik ini, anggapan sifat agresif timbul dari main video game, masih terus terpatri di banyak orang.

Tapi apakah memang demikian? Setidaknya secara ilmiah dan bukan emosi buta semata saja.

Ternyata Enggak Tuh Guys!

Call Of Duty Modern Warfare Warzone Vehicle Jump
Gak ada hubungan agresif dan game | GameRant

Nah, pertanyaan tersebut baru-baru ini dijadikan bahan studi oleh mahasiswa di Universitas Massey, Wellington, Selandia Baru.

JANGAN LEWATKAN •
Dengan Adanya Corona, Bagaimana Status Reboot Film Mortal Kombat?

Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan cara, me-review ulang 28 studi sama yang telah dirilis sebelum-sebelumnya.

Disimpulkan bahwa tidak ada korelasi atau kaitan sama sekali antar sifat agresif dengan bermain video game.

Bahkan setelah dilakukan penelitian secara berulang kali, tingkat korelasi antara sifat agresif dengan main game, tidak memiliki tingkat korelasi yang tinggi.

Bagi kita yang dulu pernah kuliah, tentunya tahu agar penelitian bisa dianggap benar atau valid, maka tingkat korelasi haruslah tinggi.

Sama Hasilnya Dengan Penelitian Milix Oxford

Dan percaya atau tidak, hasil ini hampir serupa dengan hasil yang juga didapatkan oleh mahasiswa Universitas Oxford, Inggris, di tahun 2019.

Kala itu mahasiswa Oxford meneliti korelasi antara video game dengan sifat agresif para remaja.

Dan dari penelitian ekstensif yang dilakukan tersebut, disimpulkan bahwa memang tidak ada sama sekali korelasi anatara keduanya.

JANGAN LEWATKAN •
WHO Sarankan Untuk Main Video Game Selama Masa Karantina COVID-19

Lalu kalau memang gak ada korelasi, sekali lagi kenapa ya masih banyak orang yang bernaggapan demikian? Jawabannya, fakta lapangan menciptakan pola pikir.

Maksudnya, kebanyakan orang tua atau orang pada umumnya terlepas berapapun usianya, akan menyimpulkan dari apa yang mereka lihat dan bukti yang sering terjadi di lapangan.

Dan memang faktanya masih banyak sampai sekarang kejadian kasus pembunuhan yang dilakukan oleh anak di bawah umur, remaja, bahkan dewasa.

Yang ketika ditanya, dirinya menjawab karena ingin seperti ketika memainkan game favoritnya.

Jadi dengan pernyataan tersebut, jadi jangan heran apabila anggapan / mind-set tersebut masih terpatri hingga detik ini. Nah kalau kamu sendiri bagaimana nih pendapatnya?