Telegram Diblokir, Tapi Pengamat ini Mengklaim Teroris Lebih Sering Gunakan Chat Game Online

in ,
CSS GO Terorist

Teroris sejatinya tidak akan menggunakan aplikasi chatting seperti Telegram untuk berkomunikasi.  Itulah yang disampaikan oleh pengamat satu ini, Fitur Chatting yang disediakan dalam Game Online merupakan cara tepat untuk berkoordinasi.

”Kelompok bawah tanah tidak menggunakan layanan chat seperti ini (Telegram), mereka sudah tahu dimonitor. Yang susah (dideteksi), mereka bersembunyi dalam program game, menggunakan fitur chatnya untuk berkoordinasi,” ungkap Budi Rahardjo, pengamat keamanan informasi dari Indonesia Computer Emergency Response Team.

Teroris Hanya Menggunakan Telegram untuk Mencari Pekerjaan Atau Sarana Mengubungi Keluarga

Telegram

Menurut Budi Rahardjo, Aplikasi semacam Telegram hanya digunakan untuk mencari pekerjaan oleh teroris. Pengamat Keamanan Informasi dari Indonesia Computer Emergency Response Team itu berpendapat bahwa kelompok pro ISIS tidak melakukan teror disitu. Yang mereka lakukan setidaknya lebih mirip ke arah “Social Grouping”.

”Telegram dipakai istri-istri teroris dan keluarganya untuk mencari pekerjaan. Yang sesungguhnya juga bisa dilakukan dengan platform lain seperti Whatsapp, Sebab kalau diblokir jadi tidak terdeteksi lagi secara penyidikan,” tandas Budi.

Jendral Polisi Tito Karnavian menegaskan kalau Telegram menjadi Problem yang cukup Masif digunakan oleh Kelompok Terduga Teroris. Pemerintah juga tidak bisa mendeteksi dan menyadap percakapan yang mereka lakukan. Kemampuan Pengguna untuk membuat grup yang dihuni oleh 10 Ribu orang juga jadi problem yang cukup besar.

“Cukup masif, karena selama ini fitur telegram banyak keunggulan, di antaranya mampu buat sampai 10 ribu member (anggota),” katanya.

Terhitung dari Hari Jumat lalu (14 Juli 2017), Pemerintah Indonesia resmi memblokir layanan percakapan instan Telegram dengan alasan “dapat membahayakan keamanan negara karena tidak menyediakan SOP dalam penanganan kasus terorisme”.

Fitur Chat yang Disediakan dalam Game Online Lebih Banyak Digunakan Oleh Para Teroris

cs go

 

Pengamat Terorisme Al Chaidar mengatakan bahwa Pemerintah seharusnya tidak mengambil langkah gegabah dengan memblokir Telegram, seharusnya mereka bekerja sama untuk memburu akun-akun berbau terorisme. Tindakan yang dilakukan Pemerintah itu Ibaratnya Mengejar Tikus Tapi Rumahnya Dibakar.

”Ini sebuah tindakan mengejar tikus, tapi rumah-rumahnya dibakar,” kata Al Chaidar, Minggu (16/07).

Pada kenyataannya, Teroris akan menggunakan layanan yang sudah untuk di deteksi pemerintah. Fitur chat yang disediakan di berbagai Judul Game Online. Karena mekanisme rumit yang ada dalam fitur pesan singkat dalam Game Online membuat pemerintah harus bisa bekerja sama dengan Developer game untuk memberantas teroisme seperti ini.

Teroris bisa bersembunyi dalam program game dan berkoordinasi untuk melakukan tindakan terorisme lainnya. Tentu pemerintah harus segera menyadarinya. Bagaimana menurut kalian?

Source: BBC