7 Budaya Yang Diperkenalkan di Black Panther Yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

in ,
Budaya Wakanda Black Panther

Black Panther sukses menyihir penontonnya. Para penonton begitu menikmati pertunjukkan yang dihadirkan oleh sutradara Ryan Coogler. Berkisah tentang perjuangan T’Challa sejak posisi kekuasaan Wakanda ditinggal mati sang ayah, film ini mampu mengaitkan emosi antara politik, keluarga, dan adat-istiadat yang perlahan mulai hilang dari generasi muda.

Berbicara tentang Black Panther dan Wakanda, tak ada salahnya jika kita mengurai satu per satu tentang nilai-nilai kebudayaan yang terkandung di sana. Berikut beberapa fakta menarik yang mungkin belum kamu ketahui di Black Panther

Berikut Budaya Wakanda di Black Panther yang Terinspirasi dari Budaya Asli


1. Les Sapeur

Bp1

Salah satu karakter di Black Panther terlihat rapi. Beliau selalu mengenakan jas berwarna hijau. Ini adalah representasi dari sub kultur, yang pernah populer di Kinshasa di Republik Demokratik Kongo, serta Brazzaville di Republik Kongo. Dikenal dengan Les Sapeur, masyarakat di sana sering kali menarik perhatian dengan pakaian rapi mereka, dan selalu disertai dengan menggunakan warna-warna pilihan yang terkesan mencolok.

Bp2

JANGAN LEWATKAN
Angkat Tema ‘Clash of Pop’ POPCON Asia 2018 Siap Digelar 22-23 September 2018

2. Lip Plate

Bp3

Selain dengan pakaian mencolok, pria yang sama juga melilitkan piring di bibirnya. Ini adalah Lip Plate. Seperti yang dijelaskan salah satu pengguna twitter, Waris. Beliau menyebut aksesori ini biasa dipakai oleh orang-orang suku Mursi dan Surma di Ethiopia. Biasanya wanita menggunakan Lip Plate sebagai tanda bahwa mereka telah dewasa, dan sudah berada di umur yang layak untuk dipersunting.

Bp4


3. Selimut Basotho

Bp6

W’Kabi dengan khasnya terlihat melingkarkan semacam selimut di lehernya. Konon, selimut ini akan menjadi sebuah perisai yang sangat kuat yang bahannya juga dikaitkan dengan Vibranium. Ternyata ini juga diambil dari salah satu kebudayaan di tanah Afrika, lebih tepatnya di Lesotho. Masyarakat di sana biasa mengalungkan selimut di leher mereka.

Bp5


4. Kalung Emas Ndebele

Bp7

Kalung emas yang biasa dipakai oleh pasukan Dora Milaje dan Shuri adik raja T’Challa ini berbentuk cincin dan bertumpuk-tumpuk. Kalung leher ini biasa dipakai oleh suku Ndebele sebagai identitas kekayaan mereka, dan tak akan dilepas hingga mereka meninggal dunia. Suku Ndebele adalah suku kreatif, yang dikenal juga dengan kemampuan melukis mereka. Mereka bertempat tinggal di Zimbabwe, dan juga Afrika Selatan.


5. Topi Zulu

Bp8

Masyarakat, terutama kaum wanita suku Zulu di Afrika terkenal keperkasaan dan keanggunannya. Hal itulah yang diperlihatkan oleh para wanita-wanita cadas di Black Panther. Keanggunan Ramonda, ibu dari T’Challa di Black Panther dengan sifat dan pembawaannya serta topi khas Zulu-nya. Wanita-wanita Zulu biasa memakai topi ini setelah mereka menikah.


6. Badan Killmonger

Bp10

Erick Killmonger biasa melukai badannya setiap ia berhasil merenggut satu nyawa. Hal ini sebagai persiapannya untuk mencari musuh yang lebih tangguh lagi. Hal ini pun biasa dilakukan oleh masyarakat Afrika, terutama para lelaki yang mulai mencapai usia dewasa. Dengan luka sayatan yang berdarah, bagian perut hingga dada mereka akan diusapkan lilin yang menyala. Setelah itu, akan diberikan obat herbal untuk membentuk kulit yang menonjol seperti buaya, dan dikenal dengan Crocodile Scars.

Bp9


7. Rambut Unik Warna Merah

Bp11

Suku Himba di Namibia terkenal dengan olesan-olesan dari tanah liatnya. Mereka menyebutnya dengan nama Otjize. Otjize ini biasa mereka oleskan ke rambut, serta tubuh mereka untuk membentuk warna merah, seperti warna merah hasil bentukan dari tanah liat pada umumnya. Inilah yang diperlihatkan di Black Panther.

Bp12

Sebuah film dengan hasil cipta yang modern tentu tak lepas dari tangan dingin sang sutradara. Namun, modern bukan berarti harus meninggalkan budaya-budaya terdahulu. Film Black Panther berhasil menggabungkan sebuah konsep, bahwa modern tidak harus melupakan budaya-budaya yang telah melekat dari para pendahulu kita.

Ayo mulai berdiksusi