Game indie memang tidak pernah kehabisan ide aneh. Setiap kali kita merasa sudah melihat konsep game paling absurd, selalu saja ada developer yang datang membawa sesuatu yang lebih tidak masuk akal. Kali ini, giliran Ball Scratch Simulator yang berhasil menarik perhatian berkat premisnya yang mungkin terdengar konyol, tetapi justru terasa cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seperti namanya, game ini menjadikan aktivitas menggaruk area selangkangan sebagai bagian utama gameplay. Namun, bukan berarti pemain hanya perlu melakukan satu hal tersebut berulang kali. Masalah sebenarnya justru muncul ketika rasa gatal datang di tempat dan waktu yang salah.
Bayangkan sedang duduk di kelas, menjalani wawancara kerja, atau berdiri di tengah keramaian. Semuanya berjalan normal sampai tiba-tiba muncul rasa gatal yang cukup mengganggu. Dalam kehidupan nyata, mungkin solusi paling aman adalah pergi ke toilet atau mencari tempat yang lebih sepi.
Namun, di Ball Scratch Simulator, pemain justru dituntut untuk mencari cara agar bisa mengatasi rasa gatal tersebut tanpa ketahuan orang di sekitar.
Game ini dikembangkan oleh 10ft Games dan dijadwalkan rilis untuk PC melalui Steam pada 21 Agustus waktu setempat. Meskipun premisnya sangat sederhana, developer tampaknya sengaja membangun berbagai situasi yang membuat pemain merasa malu, panik, sekaligus tertawa melihat kondisi karakter utama.
Menariknya, Ball Scratch Simulator ternyata tidak berhenti sebagai game meme sederhana. Ada beberapa fitur yang membuatnya terasa seperti game utuh, termasuk berbagai lokasi, achievement, hadiah, hingga dukungan virtual reality.
Ball Scratch Simulator Ajak Pemain Melawan Rasa Gatal

Konsep utama Ball Scratch Simulator sebenarnya cukup mudah dipahami. Karakter utama akan berada di berbagai tempat dengan kondisi yang membuatnya tidak bisa sembarangan melakukan gerakan.
Tantangannya adalah mencari momen yang tepat untuk menggaruk tanpa menarik perhatian orang-orang di sekitar.
Kedengarannya sederhana, tetapi situasinya bisa menjadi jauh lebih rumit ketika karakter utama berada di tempat ramai. Pemain harus memperhatikan lingkungan sebelum mengambil tindakan. Kalau ada seseorang yang sedang melihat ke arah karakter, mungkin lebih baik menunggu beberapa saat.
Masalahnya, rasa gatal tentu tidak selalu mau menunggu.
Di sinilah game tersebut mencoba menciptakan tekanan. Pemain harus mempertimbangkan kapan harus bergerak, bagaimana posisi karakter, dan apakah ada orang yang berpotensi menyadari apa yang sedang dilakukan.
Kalau dipikir-pikir, konsepnya hampir seperti game stealth. Bedanya, pemain bukan sedang menyelinap melewati penjaga atau mencuri sesuatu dari ruangan tertentu.
Pemain hanya sedang berusaha menyelesaikan sebuah masalah yang sangat memalukan.
Situasi seperti ini sebenarnya cukup mudah dibayangkan. Hampir semua orang mungkin pernah mengalami momen ketika merasa gatal di bagian tubuh tertentu saat berada di tempat umum dan harus menahannya karena tidak memungkinkan untuk langsung menggaruk.
Ball Scratch Simulator kemudian mengambil pengalaman sederhana tersebut dan menjadikannya sebagai tantangan utama.
Dari materi yang diperlihatkan sejauh ini, karakter utama akan menghadapi berbagai situasi yang dirancang untuk membuat pemain merasa serba salah. Ada kondisi ketika karakter berada di dalam ruangan, ada pula situasi yang melibatkan banyak orang.
Semakin ramai lingkungannya, tentu semakin sulit bagi pemain untuk mencari kesempatan.
Game ini juga tampaknya tidak terlalu serius dalam membangun suasananya. Justru sebaliknya, Ball Scratch Simulator sengaja mengandalkan humor cringe. Jenis komedi seperti ini membuat pemain tertawa karena melihat karakter berada dalam situasi yang sangat memalukan, tetapi di saat yang sama pemain juga bisa ikut merasa tidak nyaman.
Apalagi ketika karakter utama berada di sekitar banyak orang.
Beberapa materi promosi bahkan memperlihatkan karakter utama berada di sekitar sejumlah perempuan cantik. Kehadiran mereka menjadi tekanan tambahan karena pemain harus memastikan tidak ada satu pun orang yang menyadari gerakan mencurigakan tersebut.
Semakin banyak orang di sekitar, semakin besar pula kemungkinan pemain panik.
Dan sepertinya, rasa panik itulah yang memang ingin dijadikan bagian dari keseruan game.
Enam Lokasi yang Akan Hadir di Ball Scratch Simulator

Berdasarkan trailer dan materi yang telah diperlihatkan, Ball Scratch Simulator akan menghadirkan enam lokasi yang menjadi tempat pemain menjalankan berbagai skenario.
Setiap lokasi dirancang untuk memberikan situasi yang berbeda. Pemain tidak hanya akan berada di satu tempat yang sama sepanjang permainan, tetapi harus menghadapi berbagai kondisi dengan tingkat tekanan sosial yang berbeda pula.
Salah satu daya tariknya adalah bagaimana game ini membuat aktivitas yang sangat sederhana terasa seperti sebuah misi besar.
Pemain harus memperhatikan siapa saja yang berada di sekitar, menentukan posisi yang aman, lalu menunggu kesempatan sebelum melakukan gerakan.
Salah sedikit saja, orang-orang di sekitar bisa langsung curiga.
Konsep tersebut membuat Ball Scratch Simulator terasa seperti perpaduan antara simulator absurd dan game stealth. Pemain harus berhati-hati dengan gerakan karakter, tetapi tujuan akhirnya benar-benar tidak biasa.
Tidak ada monster yang harus dikalahkan.
Tidak ada senjata yang harus digunakan.
Tidak ada teka-teki dunia yang harus dipecahkan.
Pemain hanya perlu memastikan dirinya tidak ketahuan ketika sedang berusaha mengatasi rasa gatal.
Justru karena itulah konsepnya terasa lucu.
Game ini mengambil sesuatu yang sebenarnya sangat sepele, kemudian memperlakukannya seperti sebuah misi yang membutuhkan strategi. Pemain bisa saja harus menunggu beberapa detik hanya untuk memastikan kondisi di sekitar benar-benar aman.
Ketika akhirnya berhasil melakukannya tanpa ketahuan, mungkin akan muncul rasa lega yang cukup aneh.
“Untung nggak ada yang lihat.”
Kurang lebih seperti itulah pengalaman yang ingin diberikan oleh game ini.
Selain enam lokasi tersebut, Ball Scratch Simulator juga memiliki sistem achievement dan gambar hadiah yang bisa diperoleh pemain. Jadi, setelah menyelesaikan skenario utama, masih ada alasan untuk kembali memainkan game dan mencoba membuka seluruh konten yang tersedia.
Hal ini cukup menarik karena membuat Ball Scratch Simulator tidak hanya bergantung pada gimmick awalnya.
Pemain yang awalnya datang karena penasaran dengan konsepnya mungkin akhirnya punya alasan untuk terus bermain demi menyelesaikan seluruh achievement.
Ball Scratch Simulator Hadir dengan Achievement dan VR

Walaupun dari luar terlihat seperti game yang dibuat khusus untuk menjadi bahan meme, Ball Scratch Simulator ternyata memiliki beberapa fitur yang membuat konsepnya terasa lebih serius.
Selain achievement dan hadiah, salah satu fitur yang paling menarik adalah dukungan virtual reality atau VR.
Dengan adanya mode VR, pengalaman bermain Ball Scratch Simulator tentu bisa menjadi jauh lebih imersif. Pemain tidak hanya melihat karakter dari layar monitor, tetapi bisa merasakan situasinya dari sudut pandang orang pertama.
Bayangkan sedang berada di sebuah ruangan yang dipenuhi orang virtual.
Pemain harus melihat ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada yang memperhatikan. Setelah situasi dianggap aman, barulah pemain mencoba menyelesaikan misi.
Kalau dimainkan menggunakan VR, aktivitas tersebut tentu bisa terasa jauh lebih konyol sekaligus membuat pemain benar-benar merasa berada di dalam situasi tersebut.
Bahkan, kemungkinan besar mode VR bisa menjadi salah satu bagian paling menarik jika game ini dimainkan bersama teman. Melihat seseorang memakai headset VR sambil berusaha memastikan tidak ada karakter virtual yang memperhatikan gerakannya tentu saja sudah menjadi hiburan tersendiri.
Dukungan VR juga membuat konsep Ball Scratch Simulator terasa lebih unik dibandingkan sekadar game meme yang dimainkan selama beberapa menit.
Pemain bisa benar-benar masuk ke dalam situasi yang ingin dibuat oleh developer.
Namun, tetap saja, pertanyaan utamanya adalah: apakah konsep tersebut cukup menarik untuk membuat orang terus bermain?
Jawabannya tentu akan bergantung pada bagaimana keenam lokasi dan berbagai skenario di dalamnya dieksekusi.
Kalau setiap lokasi memiliki tantangan serta situasi yang berbeda, game ini mungkin bisa menjadi pengalaman singkat yang cukup menghibur. Terlebih lagi, adanya achievement memberikan alasan bagi pemain untuk mengulang beberapa skenario.
Kalau ternyata semua lokasi hanya menawarkan gimmick yang sama, tentu daya tariknya bisa cepat hilang.
Untuk saat ini, setidaknya Ball Scratch Simulator terlihat cukup percaya diri dengan konsep yang dibawanya.
Hal lain yang membuat Ball Scratch Simulator semakin menarik perhatian adalah informasi mengenai proses pembuatannya.
Pada halaman Steam, pengembang mencantumkan bahwa keseluruhan game tersebut dibuat menggunakan AI. Developer bahkan menggambarkan proyek ini sebagai sebuah eksperimen ketika sebuah mesin mencoba mengetahui seperti apa rasanya menggaruk.
Kalimat tersebut mungkin terdengar sama absurdnya dengan konsep gamenya sendiri.
Namun, hal ini juga menjadi bagian menarik dari Ball Scratch Simulator. Penggunaan AI dalam pengembangan game memang semakin sering ditemukan, baik untuk membantu membuat aset, ide, maupun berbagai bagian dari proses produksi.
Akan tetapi, menjadikan AI sebagai bagian dari identitas sebuah game dengan premis seperti ini jelas merupakan pendekatan yang berbeda.
Pada akhirnya, Ball Scratch Simulator seperti sengaja dibuat untuk menjadi sebuah eksperimen besar.
Bagaimana kalau sebuah situasi sehari-hari yang sangat sederhana dijadikan gameplay?
Bagaimana kalau pemain dipaksa memperhatikan lingkungan hanya untuk melakukan sesuatu yang biasanya tidak perlu dipikirkan?
Dan bagaimana kalau semua itu kemudian dibuat menggunakan bantuan AI serta dimainkan dalam mode VR?
Hasil akhirnya adalah sebuah game yang sulit disebut normal.
Tetapi mungkin memang itu tujuan developer sejak awal.
Game indie memang punya kebebasan untuk mengambil ide yang tidak biasa. Developer tidak selalu harus membuat game tentang menyelamatkan dunia, bertarung melawan monster, atau menjadi pahlawan.
Kadang-kadang, sebuah game bisa lahir hanya dari pertanyaan yang sangat sederhana dan aneh.
Dalam kasus ini, mungkin pertanyaannya adalah: bagaimana kalau rasa gatal di area sensitif dijadikan sebuah tantangan?
Jawabannya adalah Ball Scratch Simulator.
Ball Scratch Simulator Jadi Game Indie dengan Konsep Absurd

Ball Scratch Simulator dijadwalkan hadir di PC melalui Steam pada 21 Agustus waktu setempat. Game ini jelas bukan judul yang akan cocok untuk semua orang, tetapi justru konsep absurd tersebut yang membuatnya cukup menarik untuk diperhatikan.
Di tengah banyaknya game dengan konsep serius dan dunia yang semakin besar, Ball Scratch Simulator mengambil arah yang benar-benar berlawanan.
Tidak ada misi menyelamatkan umat manusia.
Tidak ada pertarungan melawan bos raksasa.
Tidak ada kerajaan yang harus diselamatkan.
Misi pemain jauh lebih sederhana, tetapi mungkin juga jauh lebih memalukan.
Menahan rasa gatal, mencari waktu yang tepat, memastikan tidak ada orang yang melihat, lalu menyelesaikan semuanya tanpa ketahuan.
Kalau berhasil, pemain mungkin akan merasa lega.
Kalau gagal, ya… mungkin karakter utama harus menanggung rasa malu di depan semua orang.
Dengan enam lokasi, berbagai achievement, hadiah, serta dukungan VR, Ball Scratch Simulator tampaknya ingin membuktikan bahwa bahkan sebuah ide yang terdengar seperti lelucon bisa dikembangkan menjadi sebuah game yang cukup lengkap.
Dan kalau kalian memang penasaran dengan game indie absurd yang satu ini, Ball Scratch Simulator mungkin layak dimasukkan ke dalam daftar pantauan.
Gimana menurut kalian? Menarik untuk dicoba atau justru terlalu absurd?
Selain artikel ini, Dafunda juga punya berbagai video seru seputar game, anime, film, dan berbagai topik menarik lainnya. Yuk, langsung mampir dan tonton videonya!



Bales ke