GameOpini

Resident Evil Village: Ketika Kelemahan Fans Mengorbankan Seni dan Tradisi

Seperti kita tahu seluruh fans franchise Resident Evil, kini sedang seru dan girang sendiri. Soalnya, game ke-8 di seri utama (main series), Resident Evil: Village, sudah resmi dirilis.

Dan ketika tulisan ini gue buat, sudah banyak banget fans yang memainkan game ini. Selain itu melansir GameInfinitus, Resident Evil: Village juga sukses memecahkan rekor keren. Padahal seperti kita tahu, game-nya sendiri baru saja rilis beberapa hari yang lalu.

Spesifiknya, rekor keren tersebut adalah jumlah yang memainkan Village di Steam, sukses melampaui jumlah yang dulu memainkan remake Resident Evil 2 (2019) di platform serupa.

Lebih detailnya, jumlah pemain Resident Evil 2 di Steam ketika rilis adalah 74k sedangkan Village, 84k.

Memang kalau kita lihat hanya terpaut 10k saja. Tapi rasio ini tentunya sangat besar kalau kita melihatnya dari sisi yang lebih luas lagi. Namun, walau secara profit sukses banget, tapi pada saat yang sama, bisa kita katakan Resident Evil: Village juga sangat mengecewakan.

EITS jangan protes dulu. Dari sisi gameplay dan storyline, tentunya Resident Evil: Village jauh dari kata mengecewakan. Terbukti baru 2-3 hari setelah peluncurannya, game keluaran Capcom ini, sukses menuai banyak review positif.

Tanggapan terhadap seluruh karakternya terutama yang menjadi idola “HOT” baru, Lady Alcina Dimistrecu, juga sangat positif. Intinya dari sisi teknikal, Village sudah keren deh. Lalu dimana sisi mengecewakannya?

Tone Down Kengerian Dari Resident Evil 7

Ya sisi mengecewakan Resident Evil: Village terletak pada penurunan (tone down) kengeriannya. Bahkan semenjak kita menyaksikan trailer awalnya, hal ini sudah terlihat dan terasa banget.

Dari yang tadinya di Resident Evil 7: Biohazard (2017) kita disuguhkan oleh tampilan mutasi zombie menyeramkan keluarga Baker, kini diganti dengan tampilan karakter serta tone yang tidak seseram game pendahulunya tersebut.

Analogi gampangnya, yang tadinya kita makan Pizza, kini makan Mi instan. Sama-sama masih enak tapi tentunya lebih enak Pizza bukan?

Fans Menganggap RE 7 Terlalu Seram

Dan ternyata, ada alasannya mengapa Capcom “melunakkan” tingkat keseraman Resident Evil: Village. Jadi baru-baru ini, produser game-nya, Tsuyoshi Kanda mengungkapkan kalau penurunan tersebut dipengaruhi oleh feedback yang diberikan fans terhadap RE 7.

Menurut “fans” , Resident Evil 7 adalah game yang terlalu menyeramkan untuk mereka mainkan. Alhasil, Kanda dan tim memiliki gol baru. Dan gol tersebut adalah ingin memberikan game RE yang bisa menjangkau semua kalangan dan yang paling utama, nyaman untuk dimainkan (baca: gak bikin takut setengah mati pemainnya).

Pada akhirnya berdasarkan feedback dan gol ini, tingkat kengerian di Resident Evil: Village menjadi seperti yang kita lihat sekarang.

Gak Ingat Dengan Masa Turun Resident Evil?

Oke mungkin tone down ini beberapa ada yang menyukai (terutama generasi zaman NOW). Tapi bagi yang fans franchise ini selama 25 tahun seperti gue, maaf deh keputusan ini gak banget. Dan jujur gue berpikir, lemah binti lembek banget sih fans-fans ini?

Oke memang, MEMANG, gue sendiri saja ketika memainkan RE7 (heck, menyaksikan orang main saja deh), juga ngeri sendiri dan memang, RE7 sangat seram. Tapi walau ngeri, rasa asyik dan puas terasa di saat yang bersamaan.

Karena setelah hampir 6 tahun (2009-2015) lini game utama RE (tak menghitung Resident Evil: Revelations) lebih berfokus ke sisi action-nya, akhirnya melalui RE7, Capcom memutuskan untuk kembali ke konsep / akar awal franchise RE, Survival Horror, sekali lagi, SURVIAL HORROR.

Dan sekali lagi terlepas mungkin kembalinya lumayan “ekstrim”, tapi akhirnya mereka kembali ke identitas semula bukan?

Kalau analogi di dunia musik, seperti band legendaris U2 yang setelah 6 tahun berganti fokus ke sound yang lebih “dansa-dansa” (walau masih ada sound Rock khas U2 nya), mereka balik ke sound Rock simpel khas mereka melalui album All That You Can’t Leave Behind (2000).

Dan ketika Bono cs kembali ke sound tersebut, fans veteran band asal Dublin, Irlandia ini, langsung girang bukan kepalang alhasil, membuat nama dan reputasi U2 menjadi harum lagi.

Nah sama hal-nya juga dengan Resident Evil 7: Biohazard. Ketika rilis, gak perlu lama-lama, seluruh fans langsung jatuh cinta lagi bahkan seperti cinta pandangan pertama lagi dengan franchise ini.

Karena perlu kamu ingat lagi guys. Ketika Capcom memutuskan untuk lebih fokus ke sisi action selama 6 tahun tersebut, banyak fans loyal RE yang langsung malas dan bahkan menghujat franchise kesayangan mereka ini.

Dan memang kerasa banget sih even bagi gue yang suka Resident Evil 6 (2012). Apalagi yang campaign Chris Redfield yang bagaikan main Gears of War atau Call of Duty: Zombies itu. Ihhh, gak mau inget lagi ah. NIGHTMARE!

Jadi ya wajar saja bukan kalau Capcom melalui RE7 yang super seram ini, ingin mengembalikan lagi kepercayaan fans loyal mereka terhadap franchise ini? Karena sekeren-kerennya fans baru, adalah fans lama yang menjadi ladang penghasilan utama bagi franchise zombie ini.

Kelembekan Fans Yang Mengorbankan Konsep dan Estetika Awal

Resident Evil Village
RE Village | Capcom

Tapi ya itu tadi. Walau melalui Resident Evil 7: Biohazard, Capcom sukses menggaet kembali fans lama, fans atau pemain baru yang baru mulai main di Resident Evil 4 atau Resident Evil 5, merasa gak “klik” dengan kembalinya konsep orisinilnya tersebut.

Dan Capcom sebagai sebuah perusahaan yang ingin mendapatkan untung dalam bisnisnya, alhasil gak ada pilihan lain selain harus mendengarkan apa yang fans inginkan bukan? (*uhuk* WWE *uhuk*)?

Jadi ya inilah akhirnya hasil dari mendengar dan “nurutin” fans-nya. Dan walau kita bukan salah satu fans yang protes itu, tapi tetap saja di mata Capcom, kita termasuk ke dalam “golongan” fans tersebut. Jadi ya jangan protes juga.

Tingkat Kelabilan Fans Sekarang Super Tinggi

Dan gara-gara penurunan ini, alhasil Resident Evil: Village “sukses” mengorbankan bahkan mengkianati konsep dan juga estetika awal dari franchise RE ini yaitu, SURVIVAL HORROR. Dan jujur gue bingung kenapa juga Capcom menuruti mereka?

Memang sekali lagi perusahaan yang baik harus menuruti apa yang fans inginkan (*uhuk* Vince McMahon *uhuk*). Tapi ketika memutuskan ini, apakah Capcom juga gak menyadari aspek yang satunya lagi?

Ya, rata-rata orang saat ini memiliki tingkat kelabilan atau ketidak stabilan yang benar-benar tinggi. Maksudnya, sekarang maunya A terus ketika A sudah dipenuhi, mereka mau B, tapi ketik B sudah dipenuhi, ingin balik lagi ke A.

Kalau kata si bintang Smackdown saat ini ketika dulu masih di RAW, Seth Rollins, “What the hell do you want?”. Ya jadinya mau bagaimana? Dan gue yakin nih sekarang sudah banyak gamer / fans RE yang ingin RE 9 yang nanti akan menjadi penutup trilogi Ethan Winters ini, ingin balik lagi seperti RE7 yang seram mampus itu. Ah benar-benar gak ada habisnya deh.

Sehingga kalau menurut gue, kalau gue Kanda-nya, gue sih gak akan menggubris fans-fans lemah ini. Gue pastinya akan lebih mementingkan fans veteran yang selama ini telah mengarung bersama sejak masih NOL. Tapi ya sudahlah, yang sudah terjadi, terjadilah bukan?

Masih Banyak Game Yang Jauh Lebih Seram

Dan ya guys gue sebgaai fans veteran Resident Evil masih gak habis pikir dengan fans-fans “lemah” ini. Apakah mereka ini beneran gamer atau “abal-abal?” Kalau mereka mengaku sebagai gamer, pastinya tahu banget bahwa masih ada game horor yang jauh lebih seram dari Resident Evil 7: Biohazard.

Apakah mereka gak pernah main Silent Hill (yang awal-awal), Amnesia (semua serinya), Outlast, Condemned: Criminal Origins, bahkan game gagal rilis, P.T? Game-game ini faktanya jauh lebih tegang dan seram. Bahkan Resident Evil 3: Nemesis saja jauh lebih tegang daripada RE7.

Karena kalau kita pikir lagi (dan coba pikir deh baik-baik), kalau misalkan trilogi RE7 ini ditampilkan dari sudut pandang kamera orang ketiga (third person) atau melewati setengah pundak (over the shoulder) seperti Resident Evil 4, RE 7 akan terlihat seperti kebanyakan game RE sebelumnya.

Tapi ya karena mengambil sudut pandang orang pertama (kedua mata kita), jadinya memang seram dan serasa kita yang menjadi Ethan-nya. Namun ya seperti yang dikatakan sebelumnya, nasi sudah menjadi bubur.

Ya setidaknya dalam menurunkan tingkat keseramannya, Capcom mengambil inspirasi keseimbangan dari Resident Evil 4 yang memang sangat imbang (balance) dalam segala hal.

Mari kita bedoa saja semoga untuk game penutupnya mendatang, fans Resident Evil: Village, tidak terlalu “ababil” lagi. Semoga saja game-nya bisa memuaskan kedua generasi RE-nya amin. Sekarang, bagaimana nih pendapatmu dengan pembahasan ini?

What's your reaction?

Related Posts

Leave Comment