7 Rahasia yang Harus Diketahui Dalam Membuat Pitch Deck, Siap Menangkan Hati Investor!

in , , ,
Pitching Startup Min

Pitch Deck merupakan suatu yang wajib dipahami oleh para founder startup. Biasanya pitch deck ditujukan untuk menjelaskan mengenai startup yang dimiliki founder dihadapan investor. Namun, masih banyak founder yang melakukan kesalahan dalam membuat pitch deck-nya. Sehingga, presentasinya akan terkesan membosankan dan tentunya akan gagal menarik hati sang Investor.

7 Rahasia yang Harus Diketahui Dalam Membuat Pitch Deck


1. Jangan Kebanyakan Slides, Maksimal Pitch Deck 15 Slides

Investor dengan segala kesibukannya tidak punya waktu yang lama untuk berlama – lama hanya untuk mendengarkan presentasi anda. Buatlah presentasi yang singkat, padat tapi mampu memukau investor dan tentunya poin penting yang ingin kamu sampaikan harus tersampaikan dengan baik. Kalau melihat pitch deck milik startup besar pun jarang yang ada lebih dari 15 slides.

JANGAN LEWATKAN •
Panduan Menemukan Ide Startup Dengan Meminimalkan Risiko Kegagalan

2. Berceritalah ….

Pitch Deck 1
Berceritalah

Pitching sebenarnya merupakan ajang bagi kamu untuk bercerita mengenai keadaan startup kamu. Investor akan sangat jenuh jika kamu hanya menjelaskan poin – poin menoton yang ada dalam pitch deck milikmu. Buatlah pitch deck yang akan menguatkan narasi yang kuat.


3. Visualiasi Merupakan Cara Terbaik Untuk Mengenalkan Startup Dengan Cepat

Pitch Deck 2 Min
Visualisasikan Produk Kamu

Dalam pitching kamu harus bisa secepat mungkin menarik perhatian investor. Jika kalian hanya mengandalkan teks, akan sangat sulit rasanya untuk mendapatkan hati investor. Apalagi jika teks tersebut terlalu banyak dan tidak jelas. Intinya visualiasasikan pitch deck-mu kemudian kamu bisa menceritakan apa maksud dari visualiasi dalam pitch deck-mu.


4. Minimalkan Penggunaan Teks, 1 Slide 1 Fokus Pesan Saja

Pitch Deck Visualisasi Min
Gunakan Teks Secukupnya Saja

Teks yang banyak akan menyebalkan bagi Investor. Minimalkan penggunaan teks, 1 slide difokuskan pada 1 pesan saja. Sehingga, akan mempermudah kamu untuk menjelaskan secara padat. Kamu bisa menggunakan aturan 10/20/30 Guy Kawasaki yaitu  presentasi dengan 10 slides dengan waktu kurang dari 20 menit dan ukuran font minimum 30 point.

JANGAN LEWATKAN •
Demi Saingi Alibaba, Google Investasi 7,7 Triliun Ke Jd.com Untuk Saham 1 Persen

5. Jangan Lupa Masukan Demo Produk Dalam Pitch Deck

Demo produk merupakan hal vital yang mungkin akan merubah semuanya. Biasanya ini merupakan sesi yang diminati oleh investor. Adanya demo produk akan memperjelas dan membantu investor untuk memahami startup yang akan kamu jelaskan.

Bahkan Rebright Partners, perusahaan ventura asal Singapura mengatakan bahwa para founder startup haruslah melakukan demo singkat mengenai produknya terlebih dahulu sebelum menjelaskan hal lainnya saat pitching. Tentunya dengan adanya demo, setidaknya kamu telah membuktikan bahwa ide startupmu bukan hanya angan – angan semata. Setidaknya kamu sudah membuktikan bisa membuat sebuah produk meskipun hanya sebatas MVP (Minimum Viable Product).


6. Optimis Tapi Realistis, Jangan Umbar Janji Manis

Dalam mengisi konten anda berpegang teguh pada pedoman “optimis tapi realistis”. Investor memang sangat suka dengan founder yang optimis dengan segala peluang dan kesempatan yang ada. Namun, bukan berarti anda harus mengumbar janji – janji manis belaka. Bukan berarti investor dapat dibodohi dengan segala ucapannya.

JANGAN LEWATKAN •
Kamu Seorang Non Technical Founder? Lakukan 7 Langkah Ini Untuk Membangun Startup

Dukunglah rasa optimismu dengan data – data valid yang kamu miliki. Menurut Global Founders Capital, Investor sudah terlatih secara alami untuk mendeteksi bahwa ucapanmu hanya janji manis belaka atau memang benar – benar berdasarkan realita. Jadi jangan – jangan umbar janji manis belaka yaa, atau malah berbohong.


7. Jangan Pake Data yang Jadul Dan Tidak Up-to-Date

Data memang sangat dibutuhkan dalam menunjang pitching. Namun, jangan sampai kamu mengambil data yang tidak up-to-date sehingga dianggap tidak relevan. Bisnis itu terus berkembang dan berubah secara dinamis. Jika kamu mengandalkan data yang jadul, bisa saja profesionalitasmu diragukan oleh Investor.